Canada Tour Part II : Hongkong–Vancouver

Written by Robi on . Posted in News

[Sep. 04-05, 2012] Salut buat para TKW di sana. Kita dibantu para Ibu-ibu perkasa, Sindikat Agen & Problem Fixer para TKI di Bandara Hongkong! Waktu setempat menunjukkan pukul  20.05 saat derit ban pesawat menyentuh landasan bandar udara International Hongkong. 

Setelah melewati stempel penuh selidik dari pihak imigrasi dan begitu semua bagasi terkumpul, saya segera menukarkan sejumlah rupiah dengan dolar Hongkong. Saya menukarkannya lumayan banyak, karena kita bakal stuck di sini selama 24 jam. Saya berencana akan jalan-jalan seharian ke kota, biar gak bosen di bandara. Tapi biar irit, malam ini kita bermalam di bandara saja.

Ini pertama kali kita ke Hongkong, sehingga di bandara ini kita berputar-putar mencari tempat yang nyaman untuk ‘bersarang’ dan makan snack yang kita bawa di tas, sementara Made udah sedikit ngambek karena dari tadi pengen merokok ;). Akhirnya dapat, tempatperfect yang bisa mengakomodasi semua kebutuhan anak-anak, di sana… di bangku taman atas bandara, yang dikelilingi kebun bunga warna-warni yang kontras dengan instalasi beton dan kaca. Area boleh merokok pula.

Sambil berpikir apa yang kita perbuat 24 jam ke depan, saya menyempatkan diri keliling Terminal 1 ini dan tanya ini itu dengan petugas informasi, security, petugas money changer, dan siapa saja yang kira-kira bisa bahasa Inggris lancar, karena logat Cina yang kental mengakibatkan saya mengalami kesulitan untuk mencerna makna.

Assiiik,… saya dapat peta, informasi bus, kereta, harga, jarak, dan informasi mengenai tempat penitipan barang di airport yang harganya $10/barang/jam.

Malam itu, suasana hening dan lengang gedung airport dipecah oleh gema dengkur si Gembul yang mengisi setiap sudut lagit-lagit airport yang gemanya mengalahkan suara efek reverb Verbzilla keluaran Line6!

Tapi suara ngorok itu memberikan rasa aman bagi kita di band, karena tahu ada Gembull di dekat kita, seakan merasa ada Satpam yang menjaga rumah kita. Walaupun sedang tidur, macan tetaplah macan :).

Tapi rasa aman akibat dengkur Gembull itu hanya ada di band, sementara penumpang lain yang bermalam di airport tampak kesal menatap kita sambil mulutnya komat-kamit dengan bahasa yang tidak kami mengerti. Cuma mimiknya saya paham kalau orang itu mengumpat “Anjing! Orang Indonesia itu ngoroknya keras banget. Fuck you, boys!” , saya menjawab dalam hati “ Fuck you too!” :D

Subuh hari saya bangun untuk mengecharge laptop, HP, dan kamera di tempat charge yang telah disediakan. Untung saya bawa Yoga mat, sehingga saya bisa tiduran terlentang di lantai airport yang dingin itu sambil menonton film yang ada di laptop saya.

Seorang pemuda warga Indonesia menghampiri saya. Mukanya kuyu dan hampir nangis. Dia bercerita bahwa kemarin temannya tertahan di imigrasi dan tidak bisa masuk Hongkong sehingga harus balik ke Indonesia, meninggalkannya sendirian. Dia mengaku baru pertama kali ke Hongkong, tak kenal siapa, dan cuma punya sisa $3000 untuk tiket balik ke Indonesia. Dia mengaku berasal dari Palembang, tidak bisa bahasa Inggris dan tidak punya kartu kredit tidak tahu cara beli tiket online. Doi mohon bantuan saya untuk mencarikannya tiket pulang yang murah. Saya mengecek online dan membandingkan harga semua maskapai yang terbang langsung ke Jakarta. Tak terasa waktu sudah pukul 8 pagi, airport mulai ramai lagi dan saya berkeliling mengantarkannya ke counter-counter penerbangan dan menjumpai harga yang di atas budget semua.

Hampir frustasi, dan hendak berjalan ke terminal sebelah, tiba-tiba seorang ibu-ibu berlogat Jawa menyapa kita: “ Cari tiket, Mas? Ini saya bisa carikan, dijamin murah kok, apalagi buat sesama orang Indo, Mas,” kata Ibu itu ramah. Hmmm… menarik juga. Tiba-tiba datang seorang temannya lagi, sambil bercermin di make up case dan melentikkan bulu mata doi menjelaskan kalau doi dan jaringannya sering membantu orang Indonesia yang bermasalah di Airport, dari tingkat pembantu RT hingga pejabat DPR.

Dengan sekali telpon, dalam hitungan menit serombongan ibu-ibu perkasa lainnya datang mendekati kami, setelah tahu duduk persoalan, segera semuanya menelpon dengan bahasa mandarin yang fasih, dengan HP android canggih keluaran terbaru, dan dalam sekejap sejumlah informasi tiket hari itu dengan harga dibawah budget datang beruntun seperti tai kambing muntah dari rektumnya (rektum kambing jelas!). Amanlah si pemuda galau tadi dengan konfirmasi tiket China Airlines ditangan dengan harga $2500, turun di Cengkareng tanpa transit.

Aman buatku juga yang mencoba membantunya :)

Setelah pemuda tadi wajahnya mulai dihiasi senyum dan tidak penting buat kita lagi, sindikat Ibu-ibu tersebut langsung akrab menanyai saya, “sampeyan siapa? Mau kemana? Perlu apa? Dengan siapa aja ke sini? Udah punya tiket belum?” Saya menjawab dengan lancar semua pertanyaan tadi dengan mantap dan jelas, termasuk agenda kita tur ke Kanada. Dengan terkejut campur senang, mereka berteriak,” Wah, mas artis yaak, main di Hongkong aja mas, main sama Wali, Ungu, dan besok kita mau ngundang Mas Ariel,” seru mereka bersemangat. Saya tersenyum tersipu, saya bilang ke mereka kalau dengar musik kami, nanti kalian susah jogetnya. Tapi mereka tak peduli (atau tidak paham mungkin, hehehe).

Saat ditanya “sudah sarapan belum?” saya menjawab ragu takut merepotkan, tapi atas nama perut keroncongan, saya jawab: “Belum”. Langsung aja mereka seperti berlomba menawarkan mau makan apa, soto, nasi bebek, mie, bakso, dan seorang Ibu bahkan menawarkan kalau stay sampai malam bisa makan malam dan bermalam di rumahnya. Wah, baik sekali.

Saya mengenalkan mereka dengan anak-anak Navicula lainnya yang baru saja bangun. Yang saya ingat namanya, Mbak Lili, Mbak Adil, Mbak Josephine, dan Mbak Ida alias Bu Ea, yang paling senior. Doi sudah menetap dan berkeluarga di Hongkong selama 20 tahun. Bisnis mereka di airport ya, agen macam-macam yang berkaitan dengan tiket, pengiriman barang, informasi, penukaran mata uang, agen tenaga kerja, troubleshooting, macam-macam dah.

Mereka ramah dan lucu-lucu semua, bahasanya Indo, Jawa, campur Cina. Lumayan banget jadi hiburan seru di pagi hari. Serentak bangku kami mengepul asap dan aroma mie bakso panas dan setumpuk air mineral dari segala penjuru. Kami sarapan bareng. Sambil saya bertanya ini itu, dari mereka saya mengorek info bahwa ada sekitar 100 ribuan TKI legal di Hongkong, dan sanggup menyumbang  devisa bagi tanah air rata-rata US$ 500 per tahun. Salah satu ibu ini aja bisa membantu pengiriman uang rata-rata 1,2 miliar rupiah pertahun dari rekan-rekan TKI yang menggunakan jasanya untuk mengirim duit ke Indonesia. Bagaimana dengan total pengiriman yang lainnya. Wuiiih…bisnis gede juga ini ;)

Anyway, habis sarapan saya, Made, dan Dankie bersiap untuk berkeliling ke pusat kota dan balik ke airport sore hari karena pesawat kami berangkat jam 8 malam.  Setelah nego dengan Gembull, kita setuju bahwa daripada bayar penitipan barang di airport yang mahal, lebih baik kita patungan ngasi duit ke Gembull buat jaga barang di Airport. Gayung bersambut karena si Gembull juga lagi nggak mood jalan-jalan. Apalagi ditemani para ibu-ibu tadi, Gembull sangat yakin bahwa dirinya tidak akan kelaparan dan kesepian seharian di airport asing ini. Yes, Good deal is about mutual benefit.  Bye bye Bull, kita lancong dulu ke Tshim Sha Tsui, di daerah Kowloon, di downtown Hongkong.

Menggunakan public transport, bus tingkat bernomor E21 yang bertarif murah, kita turun di Tai Kok Tsui, dan melanjutkannya dengan taxi hingga tiba di area dermaga Tshim Sha Tsui yang terkenal itu.

Segar banget kena matahari dan udara pantai, setelah melewati semalam penuh rasa bosan di airport. Pulangnya, kami jalan kaki menyusuri gang-gang di keramaian pusat kota sambil mencari bus A21 yang mengantarkan kami kembali ke airport. Memang benar, on time tanpa macet, Kowloon-airport yang jauh (kalau dilihat di peta yang kami bawa) itu cuma butuh waktu 1jam dengan bus roti tawar itu. Ini gak bakal terjadi di Jakarta ;)

Ini yang seru!! Kami bergegas ke counter Canada Air untuk melanjutkan perjalanan menuju Vancouver, Canada. Begitu check ini, tas kami dihitung per-orang, bukan total per group. Satu orang, hanya boleh satu bagasi maksimal 23KG per-orang. Kelebihan barang, baik berat atau ringan akan dicharge 560 dollar Hongkong. Sementara kita punya 7 benda bagasi dengan berat beragam rupa dan kocek pas-pasan. Alhasil, kita harus merombak barang lagi on the spot, menimbang, dan menyatukan barang, atau akan dihajar oleh charge 3barang ekstra plus sejumlah hand carry.

Alakazam! Jadilah kelompok ibu-ibu ini membantu kami sekali lagi, mereka dengan cekatan dan secepat kilat, membedah isi koper kami, pindah sana pindah sini, timbang, bongkar lagi, lipat baju, gulung, tekan, timbang lagi, tas yang tak dipakai dimasukkan ke tas yg lebih besar, 2 case gitar dibungkus karton dan diikat erat hingga menjadi terhitung satu barang.  Semuanya dilakukan dengan kilat sambil ditemani oleh riuh canda tawa (terutama saat melipat celana dalam Gembull yang berukuran jumbo!). Berhasil!! 7 buah barang bagasi disulap menjadi 5, dan sedikit handcarry.

Kamipun hanya membayar 1 barang extra plus ongkos wrapping dan sekadar uang terima kasih.

Terbukti, semangat gotong royong justru sangat kuat di negeri rantauan. Kami sangat terharu dan merasa sangat terbantu. Setelah barang masuk semua, sambil menunggu boarding time, kami dan para ibu-ibu perkasa tersebut saling berpelukan dan merayakan pesta perpisahan kecil-kecilan dengan menu nasi bebek dan minum soda di restaurant belakang airport.

Cheers!

Tags: , ,

Trackback from your site.