Canada Tour Part III: Envol Et Macadam Fest, Quebec

Written by Robi on . Posted in News

(sambungan dari Part II: Hongkong-Vancouver)

Sore itu kami mendarat di Vancouver, kami girang bukan kepalang karena perjalanan panjang yang dihantui rasa bosan ternyata hampir tak terasa karena banyaknya film baru yang tersedia di layar pribadi penumpang. Sepanjang perjalanan diisi dengan nonton film, mendengarkan musik, makan dan tidur. Pesawat jenis Boeing 777 ini sangat lega dan nyaman, sayang pramugarinya sudah pada tua semua :) . Tapi tak apalah, mereka super ramah dan perhatian.

Petugas imigrasi sempat kaget waktu saya menyapa “Good morning!” Ternyata  karena saya yang bingung oleh perbedaan waktu yang terlampau jauh, menyangka sore itu adalah pagi hari. Dari yang saya bandingkan, pihak imigrasi Kanada adalah pegawai imigrasi paling ramah yang pernah saya lihat.

Vancouver memiliki airport yang indah, terutama soal viewnya. Bangunan dan propertinya tidak semewah airport-airport besar di Asia, tapi cukup fungsional. Kesannya sederhana tapi pas, sesuai dengan selera saya pribadi, tidak menghamburkan-hamburkan budget untuk desain mewah yang tidak perlu, tapi juga tidak terkesan usang. Dari sini pemandangan di sekitar sangat indah dan cerah. By the way, kalau dari sini ke Seattle, kota asal Grunge, jaraknya sangat dekat. Tinggal turun ke selatan dikit sudah Seattle, Washington. Sayang visa  Amerika belum kelar. Kalau udah ada, mungkin route perjalanan kita akan berubah buat nyari gig di sana :) .

Menunggu hingga 5 jam kemudian, kami melanjutkan penerbangan menuju Montreal.  Karena domestic flight, pesawatnya lebih kecil, kira-kira seukuran dengan kebanyakan pesawat domestik antar kota di Indonesia, cuma masih dilengkapi dengan layar pribadi di tiap-tiap kursi dengan koleksi film yang cukup menghibur. Entah berapa negara bagian Amerika yang kami lintasi dari perjalanan tengah malam ini, karena kami terbang nyaris di atas garis batas.

Pesawat berikutnya dari Montreal menuju Quebec barulah pesawat  super kecil, dengan baling-baling di kanan kiri.  Usia pesawatnya juga terlihat cukup uzur, tapi masih tegar membelah langit Amerika Utara yang berkabut . Lama penerbanganpun kurang dari sejam. Tepat jam 8.00 pagi kita sudah dijemput oleh Virginie, manajer administrasi festival yang sendiri langsung menjemput kita dengan mobil Dodge besarnya.

Hotel Delta di jantung Quebec adalah hotel yang cukup tinggi dan besar. Kami mendapatkan tiga kamar nyaman dengan view kota. Tapi breakfast, makan siang, dan makan malam ditanggung sendiri.  Ini mungkin yang patut menjadi pertimbangan bagi band-band Indonesia di tahun mendatang untuk melengkapi dirinya dengan budget makanan, dan budget ini bukanlah jumlah yang kecil mengingat sekali makan (yang layak, alias 4sehat 5sempurna) di sini rata-rata sejumlah UMR sebulan di negara kita.  Untung isi koperku sepertiganya adalah biskuit, cokelat, power bar, dan sereal, jadi  bisa skip budget breakfast.  Kopi dan teh tetap standar hotel berbintang, gratis di kamar, dan ada portable makernya juga, jadi bisa bikin kapan saja mau.

Malam pertama di Quebec, pihak penyelenggara mengadakan welcoming party di sebuah klub bernama Le Cercle, 15 menit jalan kaki dari hotel.  Berjalan kaki sore-sore di kota ini sangat menyenangkan. Udaranya sangat sejuk dan pemandangan kota yang arsitekturnya kuat dipengaruhi kultur Prancis ini sanggup membayar lelahnya penerbangan kemari dan perjuangan gigih menghemat pengeluaran. Apalagi saat ini uang cash dollar saya yang cuma $ 350 masih nyangkut di resepsionis hotel untuk membayar jaminan kamar, apabila kami menggunakan fasilitas lebih dari yang disediakan panitia. Tapi tak apalah, nikmati saja, toh di pesta malam ini kita akan menikmati jamuan buffet dari panitia,  berkenalan dengan band-band dari negara lain, menjual merchandise, mempromosikan band, dan dihibur oleh pertunjukan band-band cadas terbaik negara ini, sambil menikmati beer lokal yang jenisnya membuat kita bingung memilih.

Pesta berjingkrak melewati tengah malam. Dankie, Made dan Bull telah beberapa jam sebelumnya balik ke hotel karena lelah, sementara saya tetap bertahan di situ menambah beberapa gelas beer lagi dan menikmati pertunjukan live yang belum usai, mengumpulkan informasi skena musik berbagai negara, dan mengurus merchandise. Sialnya, pas di tengah perjalanan menuju hotel, hujan lebat mengguyur tanpa aba-aba. Saya yang menggendong ransel berisi merchandise dan laptop terpaksa harus berlari di bawah hujan deras dan cuaca yang dinginnya hingga ke sumsum, mendaki anak tangga gang-gang kota, menuju bangunan hotel bak mercusuar nun menjulang di sana yang plang namanya menyala bertenggger di jidat gedung, sehingga tampak jelas sebagai patokan arah pulang.

Tengah malam kami dikejutkan oleh gelak tawa Alan dan adiknya, Andy, yang terbang langsung dari Florida untuk menemui kita di sini. Rencananya Alan akan membantu menemani kita hingga di penghujung tour, 10 hari ke depan, dan menyediakan akomodasi, kendaraan, serta logistik selama tur ini.

Sayangnya, rencana ini terpaksa berubah total mendadak!

Jaman dahulu kala, 20 tahun silam, sewaktu Alan masih jadi pemuda koboi bajingan urakan, dia pernah berkelahi di wilayah Kanada menghajar pemuda lokal hingga babak belur dan kejadian ini menyeretnya ke penjara.  Meski telah lewat lama, dosa ini masih tercatat di data imigrasi setempat, hingga membuat Alan tidak diperbolehkan memasuki wilayah hukum negara Kanada hingga kini. Entah bagaimana caranya, jurus jitu apa, trik halal atau haram, memelas gaya apa, pihak imigrasi mengijinkan Alan bertemu kita untuk beberapa jam, tapi menahan paspornya di imigrasi airport Quebec.

Kita melepas kangen, mengobrol di kamar hotel sampai subuh dan paginya berkeliling kota mencari café untuk mengopi dan mengisi perut yang mulai keroncongan lagi, sambil menunggu jadwal Alan balik ke airport.

Sebelum berangkat, Alan memberi suntikan dana makan, beer, dan menyewakan mobil, serta mendelegasikan adiknya untuk menemani dan mengantarkan kita selama berada di Quebec, karena tak seorang pun dari band yang memiliki SIM internasional.

Sehari berikutnya, jumat tanggal 7 September, kita tidur seharian di hotel hingga larut sore. Bangun dengan kesegaran pulih, kita menghabiskan senja dengan berkeliling kota, berburu beer lokal, hangout di steak house, hangout dengan sebuah kelompok dari scene punk lokal yang kebetulan nongkrong di tempat yang kita lewati, saling bertukar rokok (karena mereka tertarik dengan aroma kretek kita, dan begitu mereka tahu kita band yang memainkan Grunge, mereka spontan menraktir kita beer dan kita membalasnya dengan memberi CD gratis. Mereka juga berjanji akan menonton kita besok). Malamnya kami mengunjungi venue, tempat kita bakal main besok, sambil melihat band teman-teman baru kita yang tampil malam itu, sekaligus berkeliling mengabarkan jadwal kita main esok hari: Premiere Ovation Stage, jam 15.45 dan bar legendaris  L’Agitee jam 23.15.

Sabtu, 8 September, adalah hari yang penuh karena ini adalah hari pertunjukan kita. Dua kali dalam sehari. Soundcheck, main, pindah venue berikutnya, soundcheck dan main lagi. Di sore hari penonton tidak terlalu penuh, tapi pertunjukan di malam harinya padat dan menggila. Semua yang menonton kita di siang hari, menonton kembali malam harinya, plus kehadiran komunitas dari skena rock setempat karena konon bar L’Agitee ini cukup legend di skena musik setempat. Sehabis main, kelompok Punk yang kemarin menunggu kita di belakang panggung sambil tak henti-hentinya memuji kita dengan julukan “ Smart Noise” , “Original”, “Eksotis”, dan sejak pertujukan tadi saya telah melihat mereka berteriak-teriak di depan panggung dalam bahasa Prancis, dalam kalimat yang berarti “ Musik kalian bagaikan Bom!!” . Waah, merci beaucoup! Kalau sudah dipuji seperti ini, band mana yang gak bakal ge-er, hehehehe. Tiba-tiba narcism kumat!

Terbayar sudah keringat malam itu.

Malamnya kita melanjutkan ngobrol dengan band-band yang tampil malam itu, pindah nongkrong di café 24 jam, makan-makan sambil merayakan pertunjukan yang sukses. Andy yang sangat puas dan bangga menraktir kita sampai capek minum.

Cheers!

(Bersambung, baca Part IV: Seminggu di Downtown para Hipster, Toronto)

Tags: , ,

Trackback from your site.

Comments (1)

Leave a comment