Canada Tour Part IV: Seminggu di Downtown para Hipster, Toronto

Written by Robi on . Posted in News

(sambungan dari Part III: Envol Et Macadam Fest, Quebec)

Pagi itu, 9 September 2012, alarm jam weker kamar hotel sudah menjerit membangunkan saya yang masih hangover akibat tumpahan beer lokal semalam. Baru saja semenit menggosok-gosok mata, Andy sudah menelpon kamar masing-masing, memastikan semuanya sudah berkemas.

Mobil van Dodge itu dijejali oleh koper, instrumen, dan Gembull. Tepat jam 11 siang, kita berlima meluncur meninggalkan Quebec, mengarungi 9 jam perjalanan darat menuju Toronto.

Perjalanan cukup lancar dan menyenangkan. Entah berapa kota kecil dan lahan pertanian kita lewati dan di kanan kiri kita, jalan bypass antar kota super lebar ini, berseliweran truk-truk mirip Optimus Prime-nya Transformer, mobil caravan, dan sepeda motor bermesin gede. Kita hanya 3 kali berhenti kilat: 2 kali untuk makan dan ngopi, 1 kali isi bensin.

Semburat lembayung senja merekah saat kami memasuki gerbang Toronto.

Kita menghabiskan waktu sekitar sejam, berputar-putar untuk mencari alamat apartemen ini, Waniska Ave #46. Di sambut oleh yang empunya apartemen, kita akhirnya bisa selonjoran di sofa ruang tamu yang hangat, nyaman dan lega,sementara suhu di luar saat itu sekitar 12° celcius.

Apartemen ini lebih dari yang kita butuhkan, 3 kamar tidur dengan queensize bed yang empuk, satu kamar tamu yang luas dengan 2 sofa besar dan 1 air-daybed, dapur pribadi dengan alat-alat memasak komplit plus kulkas jumbo, microwave, kompor 4mulut, oven segede kabinet ampli Marshall, dishwasher, ruang makan, 1 kamar mandi dengan bathtub dan rainshower, Free-WIFI, tempat parkir pribadi, dan di beranda disediakan gazebo kayu buat merokok plus jacuzzi room siap pakai. View dan lingkungan tetangga pun sangat indah dan asri, berhiaskan kebun bunga, sayuran, dan buah-buahan. Seekor tupai yang kita namai Joko, selalu menemani kita berjemur di pagi hari. Sepertinya ini kompleks perumahan keluarga mapan dan orang-orang pensiun, karena banyak sekali nenek-kakek yang lewat di perumahan ini, hehehe. Mobil-mobil yang parkir di sini juga rata-rata mobil bagus. Dilengkapai fasilitas seperti ini, sempat menjadikan band rada malas manggung dan ogah keluar rumah. Tapi guys, kita band rocknroll, let’s out of this comfort zone, you lazy ass!!!

Keesokan paginya, Andy harus balik ke Miami, Florida karena harus kerja lagi. Posisinya kemudian digantikan oleh Chris, seorang lelaki tinggi besar, mirip petarung Gladiator. Kendaraan pun berubah dari van Dodge ke van Ford Flex yang lebih canggih dan enak soundsystemnya. Chris lah yang menyetir kesana kemari bermodal GPS.

Pendekatan dan diskusi kita dengan Chris kita lalui dengan santai dari bar ke bar, café ke café. Doi doyan minum dan giting. Apalagi di Toronto, kota hipster ini, canabis adalah barang konsumsi yang cukup umum, sama level dengan alkohol. Sehingga terapi THC Super Skunk adalah hal selumrah kita nongkrong minum arak di Bali. Konon, canabis sebentar lagi bakal legal di sini, sekarang masih di area abu-abu; tidak legal tapi kalau kedapatan cuma diambil barangnya doang. Tapi hal ini tidak mungkin terjadi di Indonesia karena kami bukanlah tipe orang yang suka bermasalah dengan hukum.

Malam-malam awal dipenuhi dengan nongkrong di beer house, dan makan-makan di rumah karena band punya job description baru: Gembull urusan memasak dan mengontrol stok kulkas, Dankie bikin kopi dan cuci piring, Saya mengatur akunting, administrasi serta negosiator, sementara Made seksi dokumentasi video dan asisten serabutan semua lini.  Saya yakin, kalau band perlu uang tambahan, kita handal kok buka usaha warteg atau warung babi guling.

Singkat cerita, setelah menelpon hampir semua live music bar di Toronto, kita confirm main di The Hideout, sebuah rock bar yang kiranya pas dengan musik dan crowd Navicula. Dari beberapa tempat yang di survei di sini, bar ini sepertinya yang paling cocok. Berlokasi di Queen street, pusat kegiatan anak muda urban di Toronto.

Rock n’ rolling again!

Untuk bermain di bar-bar daerah sini, umumnya setiap band membawa perlengkapan panggung sendiri seperti instrumen masing-masing, amplifier, dan drum kits. Tempat biasanya cuma menyediakan mixer dan PA system. Tapi tak masalah, karena harga penyewaan alat-alat di sini cukup murah dengan pilihan segudang. Kita menyewa 1 ampli Fender Blues Deluxe, 1 ampli Fender Deluxe Junior, 1 ampli Bass Gallien Krueger, dan 1set standar cymbal Sabian AA custom cuma habis $ 78 per 5 hari! Sedangkan drum kita dapat pinjaman drum butut punyanya si owner bar. Jauh-jauh datang ke Kanada, drum norak berwarna oranye terang ini ternyata made in Indonesia! Inhouse soundman di tiap-tiap venue bekerja cukup cekatan, efektif, dan sangat koperatif. Kebanyakannya mereka juga musisi.

Malam itu, Rabu, 12 September, kita bermain di bar dengan crowd yang tidak begitu ramai. Termasuk sepi malah, tapi beberapa teman dari Indonesia, Farah Dompas dan Arya Djenar yang datang, para pegawai bar, termasuk owner barnya menyukai penampilan kita. Beberapa orang memuji ramuan musik kita yang crossover, ada metalnya, ada punknya, ada psychedelicnya, dan rata-rata mereka seumuran dengan kita, dan sebagian besar adalah pencinta produk-produk classic dan post- grunge.

Si Big Bos empunya bar, Jimmy, menawarkan kita untuk main lagi hari Jumat untuk jadwal yang lebih malam dan weekend, agar kita ditonton oleh lebih banyak crowd.

Kita cuman dikasi bonus duit lelah $100 per acara (lumayanlah buat beli Ramen di Chinatown J ) dan booze sepuasnya! Plus kita boleh jualan merchandise tanpa potongan komisi. Untuk band asing yang nodong pengen main di bar kampung orang, lumayanlah, karena di Toronto ini bandnya banyak banget. Band-band pada rebutan untuk bisa main di bar-bar kota mereka. Kita tergolong ‘lucky bastard’  ini namanya, hehehe.

Satu acara lagi, yaitu main di Universitas Toronto akhirnya batal, karena persiapan yang mepet dan mendadak, mereka hanya punya slot hari Minggu malam yang kosong, tapi sayangnya Minggu pagi kita udah terbang ke Hongkong. Mereka berusaha untuk mencarikan slot sebelum Minggu, tapi sayang sudah penuh semua. Ngga apalah, no pressure, just let it flow ;)

Kegiatan menarik lainnya yang sedang terjadi di Toronto saat kita berada di sini adalah berlangsungnya Toronto International Film Festival. Festival akbar ini sudah diadakan sebanyak 37 kali, dan untuk tahun ini berlangsung dari tanggal 6-16 September 2012. Kali ini konon mendatangkan sejumlah artis kelas A seperti: Joss Whedon, Ben Affleck, Dustin Hoffman, Lana & Andy Wachowski, Bruce Willis, Tom Hanks, Halle Berry, Ryan Gosling, Robert De Niro, Penelope Cruz, Marion Cotillard, Jake Gyllenhaal, Julianne Moore, and Johnny Depp.  Bagi para moviephilia, festival ini adalah surganya. Tapi kita tidak datang ke festival ini karena tidak menjadi prioritas.

Hal lainnya adalah KISS dan Motley Crue juga bermain di satu panggung kemarin malam, Kamis, 13 September di Molson Amphiteathre, Toronto. Rencananya saya akan berangkat nonton sendirian. Tapi entah kenapa nongkrong di salah satu bar setelah lelah menjelajah Queen Street lebih menghibur dan saya nyangkut dalam gelak canda dan genangan traktiran minum dari teman-teman baru kita, hingga mabuk ketiduran di pinggir jalan, diusir pelayan bar yang tidak suka ada orang tidur di situ, dijejalkan ke taxi dan pagi-pagi buta saya baru tersadar sudah berselimut di ranjang hangat apartemen kami.  Ternyata Chris menjaga dan mem-baby sitting kita semua selalu. Doi bak suami Siaga: Siap-Antar-Jaga.

Thanks, Chris, juru selamat kita malam itu :P

Jumat siang, Farah dan Arya, membangunkan kita dengan oleh-oleh Canadian red beer dua dus, dan ajakan untuk jalan-jalan ke luar kota, ke air terjun Niagara, air terjun terlebar di dunia. Ayuuh, berangkaaatt!!

Pulang dari Niagara waterfall, jam 5 lewat dikit kita sudah bersiap menyiapkan makan malam dan mengemas barang-barang buat konser malam itu juga; kembali ke The Hideout rock bar.

Benar malam itu suasananya lebih panas dengan pengunjung yang lebih banyak. Beberapa penonton yang berasal dari luar kota, yang malam sebelumnya ke Toronto hanya untuk menonton KISS & Motley Crue, dan kebetulan malam ini mereka pada hangout di Hideout, adalah yang paling responsif dengan pertunjukan kami. Semangat deh, kalo penontonnya bereaksi seperti ini. Paling sebal kalau penontonnya diam bengong kayak nonton wayang, ibarat kita main seks dengan ikan mati. Seusai main, Jimmy, si empunya bar sangat puas. Sambil menikmati band-band berikutnya yang juga main malam itu, Tak henti-hentinya Jimmy menghadiahi kita dengan Whiskey dan Tequila shot.

Malam itu bar buka hingga jam 4 pagi.

Sabtu kita bangun siang. Hari ini Made dan Gembull memilih bermalas-malasan di apartemen sementara saya, Dankie, dan Chris mengembalikan alat-alat sewaan dan menjelajah Kensington Market, sebuah kawasan di downtown tempat berbagai rupa barang aneh dan keren di jual. Disini beragam rupa pakaian bekas, boots, radio tua, pernak-pernik eksotis, café cimeng, makanan Asia, bumbu-bumbu masak, dijual. Campur aduk, mirip flea market, dengan desain toko warna-warni. Banyak hippie, hipster, dan biker berseliweran di sini. Kita bertiga berburu oleh-oleh. Saya membeli beberapa aksesoris dari bahan Hemp dan sebotol maple sirup asli, karena ukurannya kecil dan tidak makan tempat di koper bagasi.

Malamnya, kami masak-masak di rumah. Malam itu Farah Dompas berubah wujud menjadi Farah Quinn, yang memberi sentuhan wanita Indonesia di dapur kami dengan memasakkan sepanci besar sop buntut. Beberapa saat kemudian beberapa teman mahasiswa indonesia juga datang. Dan, sahabat kami dari Bali, Joe Djenar, ayahnya si Arya, yang dulunya adalah pengurus HMT (Himpunan Motor Tua) di Bali juga ikutan berkunjung membawakan sejumlah oleh-oleh, makanan, dan buah-buahan. Apartemen ramai dan kami senang karena kulkas kami masih penuh bir, nggak mungkin kami habiskan sendiri. Kedatangan mereka membuat bir-bir itu nggak mubazir.

Malam itu malam terakhir yang sangat berkesan.  Sempurna, untuk menutup tur kita di Kanada yang membahagiakan ini.  Tur ini lebih berasa liburan dan jalan-jalan, ketimbang perasaan tur manggung yang umumnya membosankan dan menguras energi.

Sebelum tidur, saya mempelajari tiket kami untuk besok pagi sekaligus memantau perkembangan dari persiapan tur Borneo kita yang telah disusun oleh Alfred dan Lakota. Setelah berdikusi selama kurang lebih sejam lewat skype dan segalanya jelas, saya segera packing agar besok pagi-pagi benar, jam 6.30, bangun, bisa langsung berangkat ke airport.

Kembali menggunakan Air Canada, kami menikmati perjalanan ke pulang ke tanah air via Hongkong, Singapura, Jakarta, dan langsung menuju Palangkaraya.

Di penerbangan panjang dengan Boeing 777 ini, setelah menonton kembali film Pulp Fiction di layar pribadi penumpang, saya merasa ini waktu yang tepat untuk menyelesaikan catatan perjalanan ini. Biar lebih santai ngetiknya, saya memesan sebotol kecil white wine kepada pramugari yang menawarkan minuman.

Cheers!

(Tamat)

Tags: , ,

Trackback from your site.