Hari ini tanggal 30 Agustus adalah hari anti penghilangan paksa internasional. Praktek penghilangan paksa menjadi model bagi negara-negara yang otoriter di dunia untuk membungkam siapa saja yang melakukan kritik dan perlawanan atas kebijakan penguasa. Di Indonesia, praktek penghilangan paksa sudah terjadi sejak tahun 1965, dan berlanjut ke daerah konflik (Aceh dan Papua), hingga sepanjang reformasi tahun 1997-1998.

13 aktivis yang dihilangkan paksa pada 1997-1998 (foto diolah darisitus KontraS)

13 aktivis yang dihilangkan paksa pada 1997-1998 (foto diolah darisitus KontraS)

Pada tahun 2012, Kelompok Kerja PBB tentang Penghilangan Paksa memegang informasi atas 162 laporan pelanggaran HAM berat yang belum diselesaikan di Indonesia. Di antaranya, dan menjadi satu-satunya kasus penghilangan paksa yang diselidiki oleh Komnas HAM adalah kasus penghilangan paksa 13 aktivis politik selama periode 1997-1998.

Tidak terhitung berapa pernyataan publik dan tuntutan kepada pemerintah Indonesia yang dilayangkan oleh keluarga para korban secara pribadi maupun melalui berbagai organisasi yang mendukung dalam hal ini misalnya KontraS, Ikohi, Amnesty International, dll untuk menyelesaikan proses peradilan kasus ini. Tidak terhitung pula alasan pemerintah untuk menundanya. Salah satu alasan yang paling tidak bisa kami mengerti (karena bukan ahli hukum?) adalah “karena pengadilannya belum dibuat”. Pengadilan yang dimaksud adalah pengadilan HAM ad hoc. Hingga kini pun masih belum dibuat. Dan sekali lagi, kami tidak mengerti kenapa.

Kami hanya mengerti bahwa menghilangkan orang lain secara paksa adalah hal yang nyaris tak termaafkan. Namun dengan besar hati, keluarga para korban memaafkan. “We forgive but not forget”. Gerakannya pun adalah melawan lupa, bukan menolak memaafkan.

bekas-lukaDi album Tatap Muka yang kami rilis bulan Mei tahun ini, kami mendedikasikan sebuah lagu berjudul Bekas Luka untuk keluarga para korban penghilangan paksa. Lagu ini adalah sekuel dari lagu “Refuse to Forget” di album Love Bomb (2013) yang kami dedikasikan untuk gerakan melawan lupa. Terima kasih kepada Fajar Merah yang telah mengijinkan kami menggunakan gambar ayahnya, Wiji Thukul – aktivis yang dihilangkan paksa pada tahun 1997-1998 sebagai artwork lagu “Bekas Luka”.

 

Waktu dan dukungan dari para sahabat memang bisa menyembuhkan luka. Tapi bekas luka kehilangan orang terkasih – yang ditorehkan oleh penguasa yang lalim – tak kan bisa sirna.

Dengarkan lagu “Bekas Luka” di sini.