August 7th, 2014

Interview FHM Magazine – Juli 2014

FHM Magazine

Ini adalah perbincangan Fajar Billy Sandi dengan Robi Navicula yang dapat anda baca di FHM Magazine edisi Juli 2014. Simak hasil wawancara tanpa disunting berikut ini.

1. Sukses album ‘Love Bomb’ sepertinya membawa Navicula lebih dikenal di tingkat mainstream, bagaimana kalian menyikapi hal ini?

Kami menikmati dan mensyukuri aja apa yang udah dicapai, tapi bukan berarti kami sudah cukup puas. Apalagi kalau dilihat, Navicula sudah memulai ini sejak 18 tahun yang lalu. Kami masih ingin terus berkarya sampai kiamat, karena kami memang cinta musik. Ada banyak sekali sebenarnya hal-hal yang ingin kami bikin tapi belum terealisasi. Yang penting, kami masih menikmati setiap proses dan mensyukuri hasilnya. Semakin dikenal semakin bagus, karena karya kami sampai ke lebih banyak orang. Tapi kami sadar dan tak pernah lupa kalau kami adalah band yang besar dan didukung oleh komunitas.

2. Seberapa banyak pengaruh artistik yang diberikan Alain Johannes untuk Navicula, baik secara musikal maupun hasil album ketujuh ini?

Kita terpengaruh oleh Alain Johannes (produser album ke-7) justru dari karya-karya atau project-project yang sudah pernah dia bikin, salah satunya adalah album solo-nya Chris Cornell, Euphoria Morning. Sebelum kita berangkat, Alain sudah terlebih dulu berhubungan dengan saya lewat skype, dan kita banyak membedah lagu-lagu Navicula, membahas selera kita, dan teknis pengerjaannya nanti, serta fasilitas yang akan disiapkan. Selama beberapa hari di studio, justru kita lebih fokus pada teknis rekaman, karena secara artistik Alain sudah tidak ada masalah dengan aransemen dan konsep yang kita siapkan, dan kita sudah pernah membahasnya di skype. Ini sangat efektif, menimbang keterbatasan waktu, kita harus mencapai semaksimal mungkin dengan keterbatasan ini. Ada juga sih yang Alain terlibat secara kreatif, seperti pemilihan efek gitar dan amps untuk mendapatkan sound gitar yang kita mau, serta bagian-bagian yang dimainkan Alain, untuk isian gitar dan keyboard, serta mengecek lafal/ucapan Inggris saya, dan sedikit revisi pada lirik lagu dan cara menyanyikannya.

3 .Trend musik selalu berputar dan bermunculan band-band baru yang mewakilkan era 70-an, 80 -an, 90-an, namun sedikit yang mewakilkan musik era 2000-an. Apakah memang musik yang berkualitas berhenti di tahun 90-an?

Karena tahun 2000 masih terlalu dekat mungkin. Belum dianggap klasik. Sedang trend sekarang, orang merasa keren jika itu (mirip) klasik. Nanti, lagi 10 tahun ke depan mungkin, saat orang mulai kangen sama low soundnya Korn, atau hip metal jadi retro,hehe. Ini juga dipengaruhi saat industri musik juga mulai berubah dengan memasyarakatnya internet. Tahun 90-an, budaya mengoleksi album masih ada, tapi akhir 90-an, lagu sudah diobral dan dibajak habis-habisan, sehingga kesakralan sebuah album dan artisnya udah mulai berkurang. Nilai karya otomatis berkurang, karena siapa saja sudah bisa bikin dan menyebarkan karya di era 2000-an. Menurut saya bukan berarti musisi 2000-an kalah bagus, nggak, cuma sekarang musisi bagus sudah membaur dengan tsunami karya-karya yang bisa kita peroleh dengan mudah di internet.

4. Bali sendiri adalah melting pot dari berbagai kebudayaan, multi kultural, dan berbagai hal baru masuk lebih dahulu, namun kenapa scene musik di Bali terbilang kurang produktif jika dibandingakan dengan Bandung atau Jogja?

Sebenarnya kalau tinggal di Bali, kita bisa lihat jika skena musik di Bali cukup pesat.
Industri studio rekaman di sini rentalnya cukup padat. Bisnis penjualan alat musik di sini juga cukup kenceng, karena daya beli yang cukup tinggi. Venue manggung juga cukup banyak, malah kalau saya lihat (kebetulan saya sering bikin acara di Bali), lebih gampang cari live venue yang berupa bar/café/open space di Bali ketimbang di Jakarta, dengan biaya produksi yang jauh lebih murah, terutama masalah rental soundsystem dan ijin acara. Varian music juga cukup banyak, mulai dari deathmetal, jazz, pop, pop daerah, world music, hingga musik tradisional, seperti gamelan, tiap malam bisa manggung (walaupun main untuk turis). Hanya saja genre yang beragam ini jarang yang masuk media mainstream Jakarta, baik cetak atau TV, karena sangat sedikit musisi di Bali yang memenuhi kriteria ‘pop ideal’ yang diinginkan media Jakarta sebagai pusat informasi nasional. Dan sebenarnya juga hanya sedikit musisi Bali yang punya akses atau serius mempromosikan karyanya untuk media mainstream nasional, karena misalnya, musisi pop daerah (lagu pop berbahasa Bali) yang industrinya sangat besar di Bali, mereka sadar bahwa market mereka bukan untuk nasional. Dari market Bali saja mereka sudah cukup jualan album dan manggung, karena hanya itulah target mereka. Jadi fokus mereka hanya promo lokal Bali doang. Begitu pula musisi yang terlalu ‘nyeni’ macam world musik, mereka akan by pass langsung ke internasional, karena kategori ini dianggap susah masuk market mainstream Indonesia, kecuali market yang lebih spesifik, seperti crowd Java Jazz atau Soulnation. Nah, yang seperti inilah yang banyak di Bali dan terlewat oleh liputan media mainstream Jakarta. Tapi di luar urusan musik, saya setuju untuk masalah urban life style dan industri kreatif, Jogja dan Bandung masih menjadi referensi utama bagi industri kreatif dan urban muda di Bali, terutama karena diakibatkan oleh harga produksi di Bandung dan Jogja masih lebih murah dibanding Bali.

5. Apa yang masih tersimpan di pikiran kalian jika berbicara era 90-an?

Golden era of alternative rock. Banyak musik yang secara pribadi adalah selera saya an band, dan banyak mempengaruhi musik yang dihasilkan oleh Navicula.

6. Menurut kalian, sudah seberapa parah ketidakpedulian orang-orang di Indonesia soal lingkungan?

Sebenarnya banyak yang sudah peduli terhadap kerusakan lingkungan dan mendukung usaha-usaha dan gaya hidup yang ramah lingkungan. Hanya saja jika dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya di Indonesia, jumlah yang benar-benar peduli masih sangat sangat sedikit. Dan ini diperparah dengan korupsi di level pengambil kebijakan. Karena inilah saat ini kita masih terus kekeh ikut berpartisipasi mengampanyekan isu-isu lingkungan dan kepedulian sosial, dengan cara yang kita bisa. Kita percaya dan masih memiliki harapan, masalah yang kompleks ini akan bisa teratasi apabila terjadi kolaborasi, banyak pihak yang bekerjasama menyuarakan ini di bidangnya masing-masing; level organisasi/LSM, level pemerintah, sektor privat, medis, level akar rumput, pendidikan, kesenian, media, institusi agama, dll, dalam sebuah kolaborasi mulia for better Indonesia, and for better world. Navicula ingin terlibat lewat bidangnya, yaitu lewat musik.Walaupun kontribusi itu kecil, namun semangat kita besar. Kita juga bersemangat menjaga harapan naïf tapi indah ini: Apabila setiap orang menyumbangkan satu jari, maka kita bisa memindahkan gunung.

7. Bagaimana kalian bisa mempunyai ide untuk membuat merchandise sabun?

Terinspirasi dari film Fight Club dan tour kita ke pedalaman hutan di Borneo dulu. Melihat kerusakan hutan akibat ekspansi kelapa sawit, terbersit ide untuk merilis sabun bebas minyak sawit.

@naviculamusic

for booking/press contact

E-mail: hello@naviculamusic.com
Mobile: +6281 2365 55790
logo-nvcl-circle

©  Copyright 2016 - www.naviculamusic.com // web: www.idixora.com