November 20th, 2015

Ketika Hutan Sudah Menjadi Bubur

Tulisan oleh Maya Larasati
Foto oleh Bjorn Vaughn

bubur kayu oh hutanku
kau ditebang untuk jadi bubur kayu 
tebang lagi, jual lagi 
tak kan henti hingga semua hutan jadi 
bubur kayu enak 

Demikian lirik bait pertama lagu “Bubur Kayu” milik Navicula.

Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia tiba-tiba menjadi sangat terkenal. Kali ini bukan karena Bali, tempat tinggal unit grunge berumur 2 dekade ini, yang baru saja dinobatkan oleh majalah Travel & Leisure menjadi pulau kedua terbaik di dunia mengalahkan Maldives dan Hawaii – tapi karena asap pembakaran hutan.

Bayangkan, Indonesia disebut di media oleh sebagai penulis cerita perubahan iklim terbesar di bumi oleh media se-serius The Washington Post sampai media jalan-jalan Lonely Planet, yang menyebut asap pembakaran hutan Indonesia sebagai faktor penting yang harus diperhitungkan dalam penerbangan internasional di wilayah Asia Tenggara.

10 orang meninggal, 530 ribu orang terserang ISPA, 43 juta jiwa terpapar asap, dan 99% penyebab kebakaran hutan adalah perbuatan yang disengaja. Demikian rilis BNPB.

Tapi apalah artinya semua angka itu bagi mereka penikmat bubur kayu. Bukankah bagi Indonesia, minyak sawit – si adik bubur kayu itu, sudah layaknya Boeing bagi Eropa? Mengutip kata pemerintahtahun lalu, “penting bagi perekonomian, produk ekspor unggulan nasional, sumber devisa negara.”

bubur kayu, sarapanmu 
habis makan tidak lupa cuci tangan
hutan mati, tanam lagi
tapi pohon sawit bukan pohon asli
minyak sawit enak

Kakak-beradik bubur kayu dan minyak sawit memang komoditi idola di Indonesia. Dengan luas hutan Indonesia yang tadinya 162 juta hektar, banyak sekali pohon yang bisa ditebang dan dimasak menjadi bubur kayu di negeri ini. Setelah hutan habis ditebang, lahirlah adiknya – si minyak sawit, dari perkebunan monokultur yang berdiri di atas bekas hutan.

penjaga hutan, tak berdaya
karena si pencuri adalah penguasa
tebang lagi, jual lagi 
tak kan henti hingga semua hutan jadi 
bubur kayu enak

Membakar lahan sebelum ditanami sawit menjadi metode pembersihan favorit karena biayanya murah. Berkelit dari tanggungjawab atasnya pun gampang. Salahkan saja El Nino, dan musim kering yang memang datang setiap tahun. Apalagi transparansi atas pengelolaan hutan nol besar. Hingga saat ini pemerintah menolak untuk membuka nama-nama perusahaan pembakar hutan kepada publik. Karena penikmat bubur kayu dan pencuri hutan adalah penguasa?

hutan bikin emas bersinar
tebang terus, terus terang
hutan akan ditebang terus

“Bubur Kayu” berkisah tentang kian hancurnya hutan Indonesia karena ekspansi gila si karib minyak sawit dan kertas. Dibuka dengan marching bertempo cepat dari snare Gembull – penggebuk drumNavicula, selama 2 menit 39 detik tanpa basa basi “Bubur Kayu” berterus terang, bahwa hutan akan ditebang terus.

Nada-nada dalam bait “Bubur Kayu” yang berulang di tiap larik, seakan mengingatkan pada pembakaran hutan yang dibiarkan terus berulang dari tahun ke tahun – tanpa tindakan antisipatif dari para pemangku kebijakan negeri ini.

Lagu Bubur Kayu ditulis oleh Robi pada tahun 2010, pertama kali direkam tahun yang sama, dan menjadi nomor pertama di keping kedua album Love Bomb yang dirilis tahun 2013 di bawah label Volcom Entertainment. Di album yang sama terdapat dua nomor lain yang menceritakan kian hancurnya hutan hujan tropis Indonesia, yaitu “Harimau! Harimau!” dan “Orangutan”.

Navicula memang dikenal sebagai unit grunge Indonesia yang selalu mengedepankan isu lingkungan dalam lagu-lagu maupun aktivitasnya. Namun terlebih untuk Indonesia, ujar Robi – sang vokalis, “hutan harus menjadi perhatian penting, karena keanekaragaman hayatinya yang sebenarnya tertinggi kedua di dunia setelah Amazon di Amerika Selatan, dan sekaligus karena tingginya laju deforestasi di Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir – sayangnya.”

Padahal, jika hutan hilang, maka tidak hanya masyarakat di dalam hutan yang akan kena dampak, tapi seluruh bumi. ”Karena bumi ini seperti tubuh kita yang berukuran raksasa, integral dan saling berhubungan,” tambah Robi.

Sebagai satu-satunya entitas yang bisa memproduksi oksigen, bukankah tak perlu disangkal lagi betapa hutan adalah paru-paru bumi, organ vital nan integral bagi kelangsungan hidup planet ini beserta isinya? Yang sayangnya, baru disadari ke(tidak)beradaannya saat apa yang terjadi atasnya membawa Indonesia “berhubungan” dengan media-media internasional, dan menyematkan kepada Indonesia predikat negara penyumbang emisi terbesar ketiga setelah Cina dan Amerika.

Lagu “Bubur Kayu” dapat didengarkan dan diunduh secara gratis di akun Soundcloud Navicula atau akun Bandcamp Navicula.

@naviculamusic

for booking/press contact

E-mail: hello@naviculamusic.com
Mobile: +6281 2365 55790
logo-nvcl-circle

©  Copyright 2016 - www.naviculamusic.com // web: www.idixora.com