September 29th, 2014

Konser Svara Bumi  

ByRu0NmCQAAm3pl (1)

Alam Bali yang terus menerus dieksploitasi, tanpa jeda diperkosa, dengan mengatasnamakan pembangunan pariwisata dan iming-iming terbukanya lapangan kerja, jika terus dibiarkan tak terkontrol seperti sekarang justru bakal membangkrutkan Bali sebagai daerah tujuan wisata favorit lokal dan internasional di masa depan.

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata bersama Universitas Udayana pernah mengadakan penelitian yang benderang menyimpulkan bahwa Pulau Dewata telah mengalami kelebihan hingga 9.800 kamar. Pada studi tersebut juga terungkap bahwa jumlah 55.000 kamar yang tersedia sejatinya cukup untuk memenuhi kebutuhan jumlah kamar bahkan hingga 2015 mendatang.

Atas dasar riset tadi ditindaklanjuti oleh sang pemimpin daerah dengan menerbitkan Surat Gubernur Bali no. 570/1665/BPM yang merujuk pada moratorium, penghentian sementara pembangunan jasa akomodasi pariwisata. Utamanya kawasan Bali Selatan—Sanur, Kuta, dan Nusa Dua—yang merupakan sentra turisme telah kelewat penuh sesak dengan bangunan dan berjejalnya manusia yang berimbas pada kisruh lalu lintas nan parah, berkurang drastisnya ruang terbuka hijau serta polusi tinggi.

Yang lucu, moratorium tersebut justru belakangan dilanggar oleh gubernurnya sendiri dibantu oleh sejawatnya di legislatif serta dibekingi oleh pengusaha sebagai pengucur dana. Beberapa proyek berskala besar yang terang-terangan murtad pada moratorium dipaksakan dibangun. Ada yang berhasil didirikan semisal Mulia Resort, di Nusa Dua, ada yang mangkrak di tengah jalan akibat protes kuat oleh masyarakat seperti Bali International Park, di Jimbaran.

Merajalelanya sang pemimpin daerah menyiksa semesta didukung oleh program MP3EI (Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) yang mendewakan pertumbuhan ekonomi. Artinya ketika salah satu proyek MP3EI terhambat sebuah peraturan, bukannya proyek tersebut dihentikan, tapi peraturannya yang diubah.

Salah satu persoalan besar yang sedang dihadapi Bali adalah rencana reklamasi Teluk Benoa. Penolakan luas dari masyarakat Bali terhadap reklamasi selain karena dipandang amat tak berpihak pada kemaslahatan rakyat banyak serta jelas-jelas menabrak peraturan tata ruang yang ada, justru dimentahkan oleh SBY dengan menerbitkan Peraturan Presiden No. 51/2014 yang salah satu poin terpentingnya adalah mengubah peruntukan Perairan Teluk Benoa dari kawasan konservasi perairan menjadi zona budi daya yang dapat direklamasi seluas 700 hektar.

Perlawanan terhadap rencana hitam ini kian hari kian membesar. Pemuda-pelajar, sekaa truna-truni di banjar-banjar, musisi dan seniman, dsb, bersatu padu menyuarakan penolakan. Sudah lebih dari 130an baliho yang didirikan di berbagai sudut pulau Bali untuk menunjukkan ketidaksetujuan. Belum lagi aksi turun ke jalan serta konser musik yang rutin dan tanpa kenal lelah, hampir selalu mampu menyedot ribuan orang untuk terlibat. Di saat yang sama, penguasa yang bersekongkol dengan pengusaha, bersikeras merealisasikan proyek raksasa ini. Selain berkampanye lewat media sosial, juga melakukan intimidasi terhadap para penolak reklamasi dengan menggunakan jasa preman.

Konser Svara Bumi ini adalah langkah para sukarelawan yang tergabung dalam ForBALI (Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa) untuk mengangkat isu pemerkosaan lingkungan ini ke tingkat nasional. Bahwa jika Teluk Benoa yang jelas-jelas merupakan kawasan konservasi saja bisa diubah sesuka hati, hanya untuk mengakomodasi kepentingan segelintir orang dan mengorbankan rakyat banyak, bukan mustahil hal yang sama diterapkan di daerah lain di Indonesia. Acara berkonsep edutainment ini juga merupakan acara penggalian dana bagi rekan kerja ForBALI, Walhi Bali, dalam pergerakannya mengurusi isu-isu lancung lingkungan secara umum. Pengunjung diharapkan menyumbang di pintu masuk dengan donasi minimum Rp 100 ribu/orang.

Para seniman yang terlibat di Svara Bumi sebagian berasal dari Bali, sisanya asal Jakarta dan Bandung. Mereka secara ikhlas bergabung bersenandung, membaca puisi, menghibur tanpa dibayar, untuk menunjukkan rasa pedulinya yang kolosal kepada Pulau Dewata, destinasi yang kerap dikunjungi, dekat di hati, dan dicintai. Mereka tak rela Bali porak poranda akibat ketamakan segelintir orang.

RUDOLF DETHU

M. 08111882502

E. rudolfdethu@rudolfdethu.com

Tuan rumah takkan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya – Tan Malaka

10665958_899163203445564_8982529988312883561_n

KONSER SVARA BUMI

Tanggal acara: 30 September 2014

Lokasi acara: Rolling Stone HQ, Jalan Ampera Raya No.16 Jakarta Selatan

Susunan acara

16:00-17:00 Konferensi pers, dihadiri oleh masing-masing penampil Jeda adzan maghrib

19.15-19.30 Saras Dewi (ForBALI)

19:30-19:50 nosstress

19:50-20:00 Happy Salma

20:00-20:10 Kill The DJ

20:10-20:30 Navicula

20:30-20:40 Djenar Maesa Ayu dan Cinta Ramlan

20:40-21:00 Melanie Subono

21:00-21:20 Seringai

21:20-21:40 Gendo (ForBALI)

21:40-22:10 Superman Is Dead

 

@naviculamusic

for booking/press contact

E-mail: hello@naviculamusic.com
Mobile: +6281 2365 55790
logo-nvcl-circle

©  Copyright 2016 - www.naviculamusic.com // web: www.idixora.com