Media Review: Navicula Interview di Jeune Magazine – Dream Issue

Ini interview dari majalah indie produk dalam negeri favoritku di tanah air, Jeune. Kemaren sempat ketemu Che (Chief editor-nya, sekaligus vokalis band rock asal Bandung, Cupumanik) di Jakarta , hangout sampai subuh, dan surprisenya Jeune edisi terbaru yang memuat Navicula…Waw, seneng banget!  Thanks Che, Icha, and all Jeune crews.

Silakan beli majalahnya, support media bermutu, and get all cool reviews di edisi terbaru Jeune, “Dream” issues! Selamat menyimak…

(Taken from Jeune Magazine – Dream Issue)

Navicula 2009

Navicula 2009

Di kancah musik nasional sebenarnya Navicula sudah menancapkan eksistensinya, langkah besarnya dibuktikan ketika Major label Sony BMG memproduksi album ke-4 mereka “Alkemis”. Apalagi di scene grunge, tidak berlebihan rasanya, jika Jeune menganggap band ini merupakan band grunge tanah air yang paling konsisten dan produktif. Kami bertanya, saripati apa yang mereka dapatkan dari memuja Nirvana, Alic in Chains, Soundgarden dan Pearl Jam? Mereka menjawab: “Generasi ini musiknya keren banget, salah satu masa dimana karya-karya musik rock terbaik sedunia pernah dibuat. Masa yang sangat inspiratif, dan karya-karya yang dihasilkan punya kualitas seni yang tinggi. Kita sangat dipengaruhi oleh spirit berkesenian mereka”.  Jeune mewawancarai Gembull, Made, Dankie dan Robi para aktivis musik di balik Navicula ini di sela-sela persiapan menyelesaikan proses rekaman album ke-6 mereka. Melalui percampuran banyak elemen, dari budaya spiritual kalasik Bali, pengaruh para seniman internasional yang menetap di Bali untuk menimba inspirasi, dan modern kultur di sejumlah internasional spot yang ada di Bali, band ini memperoleh rasa asli mereka, rasa ‘golden green grunge’, rasa Navicula.

Jeune: Ada filosofi apa di balik pemilihan nama makhluk Ganggang emas bersel satu?
Jawab:
Awalnya pemilihan nama ‘Navicula’ terjadi begitu saja tanpa memikirkan filosofi nama itu sendiri. Cuma kita tahu kalau nama itu adalah nama sejenis ganggang emas bersel satu (arti sebenarnya adalah kapal kecil, ganggang mikro tersebut diberi nama ‘navicula’ karena bentuk fisiknya mirip bentuk kapal).  Kita dulu memilih nama ini karena terdengar keren. Belakangan saat dihujani pertanyaan seragam mengenai filosofi nama ini bagi band, kita karang-karang aja beberapa versi, versi lamanya: “Warna emas sebagai simbol sesuatu yang bernilai, dan bersel satu sebagai simbol kita menyatukan keberagaman selera menjadi satu warna musik.”   Hmmm… ok, yang itu udah basi. Ini salah satu versi terbarunya: “Diri kita ini bagaikan ‘kapal kecil’ di tengah samudera kehidupan, kalau kita bocor dan membiarkan air masuk tak terkendali maka kita akan karam.” Ada ide lain yang lebih seru?

Jeune: Mengapa membangun warna dasar dan pondasi musical Navicula dengan GRUNGE, padahal band ini berpadu beragam warna musik  etnik, psychedelic, blues, alternatif, folk, progresif dan rock murni di dalamnya?
Jawab: Grunge menjadi pengaruh yang kuat saat kita mulai nge-band. Kalau kita telusuri lagi yang mempopulerkan istilah ‘grunge’ kan media juga, untuk memudahkan klasifikasi genre ini di jamannya. Tapi band-band grunge sendiri sebenarnya memainkan musik yang lebih luas dari terminologi sempit ‘grunge’. Sama dengan kita, kita menyebut kita beraliran grunge agar bisa dengan cepat menjelaskan kita ada di genre mana, walaupun musik kita udah eksplorasi ke sana-sini.

Jeune: Kami menangkap ada pesan perdamaian, cinta dan kebebasan dalam departemen lirik, tapi semua itu sebagian besar di bungkus dengan ekpresi marah, kalian punya pengakuan atau bantahan? Mengapa ekspresi itu yang dipilih?
Jawab: Lirik memang mengandung cita-cita utopis itu.  Cuma kita sadar kita berada di realitas yang sangat susah untuk mencapai cita-cita tersebut. Dunia kita bising dan kacau.  Kita memutuskan untuk mengeraskan suara agar orang-orang mendengar apa yang ingin kita sampaikan. Saya pikir ini adalah salah satu penyebab munculnya musik rock, menyampaikan pesan lewat musik yang keras, tekstur yang dominan adalah distorsi dan teriakan. Ekspresi ini adalah gaya pelepasan energi yang kita pilih untuk menggapai cita-cita di atas (perdamaian, cinta dan kebebasan).  Seperti bermain seks yang total, bergumul liar untuk mencapai orgasme…setelah badai, selalu ada ketenangan.
Tapi nggak semua kok lagu kita keras, ada juga yang soft. Mungkin saat bikin lagu soft ini mood kita lagi santai, atau kelelahan akibat bermain seks semalaman :)

Jeune: Apakah dulu saat bergabung dengan Major label Sony BMG, Navicula merasa bahwa itu kesuksesan, langkah besar dan salah satu target yang diburu?
Jawab: Itu adalah pengalaman yang bagus buat kita. Ukuran sukses itu relatif..  Langkah besar, iya, karena kita banyak belajar dari masa ini.  Dulu, sign dengan major sempat menjadi target option kita, tapi sekarang perspektif kita udah beda dan industri pun sudah berubah.

Jeune: Lalu apa hal yang di anggap sukses sejauh ini oleh Navicula?
Jawab: Punya kesempatan untuk terus berkarya merupakan salah satu ukuran sukses bagi kita, ada beberapa hal yang ingin kita capai juga. Tapi biarkan aja dulu mengalir, kita punya keinginan yang kuat untuk maju, tapi kalau nggak berhasil yah, nggak apa-apa juga. Fuck It. Berhasil dan gagal itu hal yang wajar.

Jeune: Apa sih yang menjadi keresahan paling hebat kalian dari dunia musik Indonesia ?
Jawab: Wuihh… banyak kayaknya,… semua lagu terdengar sama, industri dimonopoli orang jago jual tapi sama sekali nggak paham musik, jurnalis majalah musik punya taste musik yang buruk, ijin acara konser dipersulit, undang-undang pornografi ikut campur ranah lirik, gitaris berbakat jual gitar satu-satunya untuk bayar kos, bagus/tidaknya sebuah lagu diukur dari jumlah penjualan RBT, artis membayar langsung produser,dll. Hmm…sepertinya hal di atas sudah terjadi ya?

Jeune: Sebagai seorang dengan jiwa aktivis di musik, apa hal yang harus di bongkar dari dunia musik Indonesia, sehingga terjadi perubahan ultra radikal yang sangat baik?
Jawab: Seniman punya integritas untuk membuat karya bagus yang merupakan ekspresi hati mereka. Berani melawan industri kalau bertentangan dengan hatinya, bukan sebaliknya berlomba-lomba menjadi seperti yang industri inginkan.  Jangan mau jadi bebek-bebek industri. Harus ada otoritas di tangan seniman untuk membuat karya yang jujur.

Jeune: Dari album-album Navicula seperti: SELF PROTRAIT, 1999.  KUTA (KEEP UNITY THROUG ART) 2002, NAVICORE NEO ROCK CLUB 2003, -ALKEMIS 2005, BEAUTIFUL REBEL 2007. Mana dari deretan album itu yang ingin kalian retake? Apa alasan-nya?
Jawab: Mungkin Self-Portrait.  Album pertama itu banyak yang request untuk diproduksi lagi, tapi sayang masternya udah rusak. Pengen suatu saat kita retake lagi, tapi sebenarnya kita juga masih banyak materi lagu baru yang belum direkam.

Jeune: Banyak band yang masih mencari identitas dan bentuk sempurna dari ciri musikalitas mereka, album kalian yang mana yang sekiranya sangat mewakili wajah Navicula yang sesungguhnya? Sebutkan alasan-nya?
Jawab: Tiap-tiap album punya konsep dan eksplorasinya sendiri. Saya pikir tiap album punya wajah kita pada masa album tersebut dibuat. Jadi, ibarat koleksi foto, ada foto wajah kita waktu masih bayi, ada foto waktu kita ABG, ada foto kita mulai tumbuh dewasa, dll. Di album baru kita lagi memasuki usia puber ke-2.

Jeune: Terjemahkan dan jelaskan konsep rasa musik Navicula sebagai ‘golden green grunge’?
Jawab: Golden=ganggang emas, nama navicula diambil // Green= pesan dalam lirik mengenai aktivisme di bidang lingkungan hidup dan sosial // Grunge= jenis musik yang diusung

Jeune: Bisa di ceritakan lebih detail, siapa sebenarnya Anom dan Peter Heckmann, dan bagaimana kerjasama ini bisa terjadi dalam penggarapan album ke-6 Navicula?
Jawab: Anom adalah pemilik Antida Studio (studio rekaman) di bali, seorang sahabat dekat, sound engineer profesional yang telah belasan tahun berprofesi di bidang ini di Swiss, Prancis dan Bali. Peter adalah sahabat kita juga yang juga berprofesi sebagai sound engineer & musik direktor (khususnya pop & dance music), yang sudah menekuni profesi ini dengan beragam artis di barbagai belahan dunia sejak dulu kala, kini menetap di Bali dan tertarik dengan musik yang kita bawakan. Mereka berdua patungan memproduseri rekaman album ke-6 kita di Antida Studio, atas dasar sederhana, yaitu ketertarikan dan respect terhadap karya-karya yang kita buat.

Jeune: Kita menuju album ke-6 Navicula, ayo promosikan dan ungkapkan kenapa banyak orang harus menyimak dan mengkonsumsi album ini?
Jawab: Album ini ada wajah kita sekarang, dengan kematangan bermusik dan konsep baru, tanpa merubah karakter asli Navicula.  Kita tumbuh lebih dewasa di album ini.  Di album ini kita juga melakukan beberapa hal baru, yang belum pernah kita buat di 5 album sebelumnya.

Jeune: Dari banyak lagu yang pernah di ciptakan, lagu apa yang punya dampak atau respon yang besar dari para fans kalian? Kenapa lagu itu?
Jawab: Warna musik kita beragam, di satu lagu kita kental dengan metal, dan lagu lainnya folk, lagu lainnya lagi funk, satu lagunya bernuansa world fushion, sehingga range pendengar kita jadi lebih luas sebenarnya. Tapi akibatnya, tiap-tiap lagu punya pendengarnya sendiri-sendiri. Mungkin respon yang menyentuh lebih sering kita dapat untuk lagu “Merdeka”, dari album Beautiful Rebel.  Lagu itu sangat sederhana, liriknya jujur dan milik semua orang.

Jeune: Saripati atau intisari apa yang kalian ambil dari musik Nirvana, Pearl Jam, Alice in chains dan Soundgarden untuk Navicula?
Jawab: Generasi ini musiknya keren banget, salah satu masa dimana karya-karya musik rock terbaik sedunia pernah dibuat. Masa yang sangat inspiratif, dan karya-karya yang dihasilkan punya kualitas seni yang tinggi. Scene musik Seattle di era ini juga menarik, saya sempat nonton ini di film dokumenter Hype!
Kita juga sangat dipengaruhi oleh spirit berkesenian mereka. Mereka benar-benar membuat sesuatu yang jujur dan tulus, dengan atau tanpa dukungan industri. Mereka berjuang sangat keras, dari scene yang tidak dianggap dan diremehkan, berubah menjadi raksasa yang merubah industri musik dunia secara keseluruhan.

Jeune: Konser impian Navicula akan seperti apa?
Jawab: Dari sisi seni, kita ingin berkolaborasi membuat panggung bersama seniman-seniman instalasi besar dan visual art yang sesuai dengan gaya kita, tanpa memikirkan anggaran. Kami ingin pertunjukan hebat seperti video konsernya Rammstein. O ya… kita juga pengen bikin konser besar yang seluruh energi supply-nya dari panel solar (tenaga surya). Saya pernah coba bikin seperti ini di Bali pada acara Earthday tahun lalu, sayangnya energi yang bisa disediakan cuma 1500 watt.  Belum cukup untuk menjalankan soundsystem yang memadai, bersama teman-teman kita lagi cara mewujudkan energi alternatif ini di acara mendatang.

Jeune: Opini kalian tentang perkembangan scene musik Bali ?

Jawab: Bali lagi seneng-senengnya membangun scene. Band-band baru tumbuh subur di genre-nya masing-masing, tapi cukup membaur dan solid. Scene musik di Bali tergolong unik di Indonesia, di satu sisi kita sedikit ketinggalan dengan kota-kota kreatif seperti Bandung dan Jogja, terutama untuk mengikuti apa yang keren menurut mainstream nasional.  Saya mengakui, scene indie Jogja misalnya, sangat kreatif dan punya daya survive tinggi (semangat DIY) untuk bikin apa saja yang berhubungan dengan kegiatan berkesenian. Saya sangat salut dengan hal ini dan mendukungnya. Beberapa pelaku scene musik di Bali mungkin masih agak malas, belum seaktif dan kreatif itu, budayanya masih ikut-ikutan, dan akhirnya jadi kaum pengikut yang selalu ketinggalan.
Namun di sisi lain, kita maju sekali akibat arus internasional yang keluar masuk Bali.  Bali adalah ‘melting pot’ (membaurnya multi-kultural), hal ini membuat scene tertentu di Bali terpengaruh lebih dulu dengan hal baru, yang mungkin banyak di daerah lain di Indonesia belum menganggapnya sebagai sesuatu yang keren, atau baru hype, padahal di Bali, di komunitas tertentu, hal itu adalah sesuatu yang lumrah atau bahkan dianggap cheesy.

Jeune: Apa saja band lokal Indonesia yang kalian dengarkan dan kalian lihat konsernya?
Jawab: Ada beberapa yang bagus, saya dengar Slank, Iwan Fals (yang lama), BIP, Cupumanik, Kaimsasikun, Seringai, Naif, The Upstairs, White Shoes & The Couples Co., Mocca, Efek Rumah Kaca, The SIGIT, Tika, Burger Kill, Koil, Netral, Endank Soekamti, SID, The Hydrant, Balawan, Saharadja, dll. Ada beberapa saya dengar albumnya tapi belum nonton konsernya, seperti Zeke and the Popo, Kande(band world musik dari Aceh), Besok Bubar (band grunge Jakarta). Saya juga suka disain album fisiknya Teenage Death Star.

Jeune: Kenapa memilih musik sebagai jalan hidup, sebagai ekspresi budaya dan profesi?
Jawab: Musik adalah bahasa universal.

Jeune: Opini kalian tentang band yang menggratiskan karya/album?
Jawab: Sah-sah saja, memang ada konsekuensinya.  Tapi ini juga salah satu cara biar tetap eksis di keterpurukan industri musik global. Kalau band semacam Navicula, kita bikin karya karena kita memang suka berkarya dan bahagia sekali jika karya kita bisa didengar lebih luas. Cara distribusi adalah pilihan, dan bisa apa saja.  Setiap orang berhak mendapatkan musik, tapi jangan cuma maunya ambil saja, harus beri apresiasi juga kepada seniman. Harus balance antara take and give.

Jeune: Apa sesuatu yang paling kalian inginkan dari Navicula?
Jawab: Dunia sudah sedemikian kacau, kami membuat musik yang kami senang mainkan dan menjadi media untuk pesan-pesan yang inspiratif bagi pendengar. Navicula adalah media kreasi. Bisa eksis sekian lama sudah memberi rasa syukur bagi saya pribadi. Kami memperjuangkan suatu perubahan dan saya ingin Navicula jadi bagian dari perubahan ini.

Tags: , , , , ,

3 Responses to “Media Review: Navicula Interview di Jeune Magazine – Dream Issue”

  1. heru minandar 23. Mar, 2009 at 3:10 pm #

    band yang konsisten salut!!!

  2. dilakeke 28. Mar, 2009 at 9:54 pm #

    siiiiippp…saluuuutttttt!!!!

  3. dana 30. Mar, 2009 at 2:23 pm #

    saluuuuuuuuuutttttt…………………….biar udah tua namun raungan NAVICULA masih bisa mengusik telinga&mengelitik hati,cinta,estetika,nurani,bahkan jiwa yg merana skalipun di bungkus dengan etika yg mendasar tanpa kekerasan!!!! fiiiuuuuuhhhhhh……………..knapa NAVICULA jdi bgini yaw???? aduh,susah maw bilang apa ya????? just one,keep rock with your style!!!!! just it………………………..

Leave a Reply