Melayu Bersatu

Wed, Sep 30, 2009

News

Melayu Bersatu

Anti Konflik Indonesia – Malaysia

Akhir-akhir ini kita terkompori oleh isu anti-Malaysia, yang belakangan mencuat lagi lewat Tari Pendet (tari tradisional daerah Bali) yang dipakai oleh Discovery Channel untuk promo tourism Malaysia, lalu isu ini menjalar, mengupas luka-luka lama seperti kasus Reog Ponorogo, Batik, Ambalat, TKI, dll. Entah siapa yang menuangkan liquid Zippo ke dalam api tensi yang kerlap-kerlip ini menjadi api unggun yang riuh santer dibicarakan baik di internet hingga lesehan trotoar. Ada yang bikin militan club segala dengan aksi sweeping warga negara Malaysia di Jakarta, yang kalau dipikir-pikir sebagai aksi memalukan karena menebar imej bangsa ini adalah bangsa tukang berantem jaman pendekar golok naga. Nasionalisme sih penting, tapi sebaiknya diwujudkan dengan cara lain yang lebih cerdas, bukan melestarikan cara barbar!

Jangan mencampur masalah politik dengan sikap prejudis terhadap masyarakat sipil.
Hentikan main cap seenaknya. Ketidaksetujuan terhadap suatu kebijakan negara bukan berarti menyalahkan seluruh warga negaranya!

Cobalah perbanyak introspeksi ketimbang sikap reaktif yang berlebihan…

Dunia saat ini menghadapi masalah global yang lebih darurat daripada isu kecil tensi serumpun ini. Kita bersama menghadapi krisis nutrisi, pemanasan global, perubahan iklim, krisis energi, sampah, bencana alam, penyakit, dan lain-lain, yang membutuhkan kerjasama global seluruh umat manusia di dunia tanpa filter agama, warga negara, ras, dan latar belakang atau atribut apapun. Jangan biarkan isu tensi serumpun ini membuang-buang tenaga kalian yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kerjasama global. Dunia sekarang udah fucked up, saudara! Dengan kerjasama seluruh umat manusia di dunia, maka kemungkinan (saya ulangi, KEMUNGKINAN, karena kronisnya penyakit bumi kita tercinta ini) terbukanya pintu ke arah perbaikan akan terjadi. Kerjasama global ini hanya bisa terjadi dengan ‘lem super’ organik bernama CINTA. Mulailah dengan dirimu sendiri dan lingkungan di sekitarmu… act local, think global!

poster-MY-ID-web

Saya juga seorang seniman (musisi), yang mencoba mengambil perspektif dari bidangnya. Seniman sebagai penyunjung tinggi karya seni, yang mendedikasi hidupnya untuk pengembangan seni, sepantasnya berpikir ‘everyone deserves art’. Sadar kalau suatu produk seni/budaya yang bagus pasti akan ditiru banyak orang, dan menghargai fenomena itu dengan pikiran positif. Coba bayangkan: Orang barat menggugat kita karena kita pakai dasi dan jas, atau Cina menggugat kita karena pertunjukan Barong Sai yang kerap dipentaskan WNI etnis Tionghoa, atau orang India menggugat Bali karena banyak ikon seni yang menggunakan nama-nama tokoh mereka, atau menggugat Wayang karena memakai cerita Ramayana atau Mahabharata, atau Timur Tengah menggugat Indonesia karena banyak yang pakai jilbab, atau Seattle menggugat Navicula karena musiknya ‘Grunge’! Nggak asik kan?
Sekali lagi… introspeksi!

Daripada jadi provokator tindak kekerasan, mari sama-sama jadi aktivis perdamaian global. Rock n’ Roll tercipta untuk kebebasan berpikir, anti-perang, cinta, dan kebersamaan.
Peace, Love, and Rock N’ Roll!!

- Robi Navicula
(yang ‘meng-klaim’ ideologi John Lennon, lengkap dengan kaca mata bulatnya)

Robi-gravatar

Bookmark and Share

Popularity: 3% [?]

, , , , , ,

This post was written by:

Robi - who has written 24 posts on Navicula.


Contact the author

15 Comments For This Post

  1. Lakota Says:

    Friends, please join the Facebook Group “Melayu Bersatu” here: http://www.facebook.com/group.php?gid=143870587339&ref=nf

  2. Dian Says:

    Setuju bro,mudah-mudahan kita semua sadar dengan ini semua dan bisa melakukan hal yang lebih baik lagi dari sebelumnya…

  3. artzex Says:

    tidak banyak orang yang berpikiran seperti bang robi, disalah satu universitas negri ternama di jogja juga ada sweeping2 warga malay, kaos2 sablonan sendiri yang juga anti Malaysia, sebenarnya perasaan terprovokasi ada juga, tapi kalau berfikir lebih luas lagi, sebenarnya kita ini cuma kayak sedang dimainin. semoga dengan tulisan ini pandangan orang2 akan (paling tidak) berubah, menjadi lebih positif.
    good luck for the show guys!!!

  4. meela Says:

    tidak seorangpun yang akan menggugat kita meniru budaya bangsa lain selama kita tidak mengklaim itu adalah hak cipta kita.. tapi apa yang dilakukan malaysia adalah mengklaim budaya kita .. apa kita pernah keberatan jika orang bule mementaskan tarian bali di negerinya?? nggak kan? karena baik kita maupun mereka sama2 mengakui dari mana budaya tersebut berasal..nggak pernah sekalipun bangsa ini mengklaim dasi atau barongsai atau jilbab adalah budaya kita.. contoh yg lebih kasat mata..kalo lagu navicula dibawain band lain pasti bang robi senang..tapi lalu dia mengaku bahwa itu lagu ciptaanya, bagaimana perasaan mas Robi? mereka yang berseberangan dengan malaysia bukan karena doyan berantem, tapi karena cinta indonesia. apa yang sudah diperjuangkan dengan darah dan air mata tiba2 di klaim negara lain.. sekali lagi, bukan memihak siapa2, tapi percayalah indonesia cinta damai.. tapi kalo satu persatu budaya, tanah dan laut kita jatuh ke negeri orang, apa kita tetep bahagia dan menjabat tangan sang penjarah, sembari bilang melayu bersatu?? lantas, untuk apa jutaan nyawa melayang demi mempertahankan negeri ini kalo akhirnya satu persatu kita iklaskan ke tangan malaysia??? kasus tari pendet kemarin benar2 memukul rakyat Bali hingga terbentuk aliansi anti malaysia dan ada juga malingsia group.. seperti menjaga istri sendiri, seperti itulah harusnya rakyat indonesia menjaga budaya dan tanah airnya .. saya sangat yakin kalo negeri tetangga mensyukuri apa yang ada (seperti lagu d’masiv), rakyat indonesia pasti sangat sanggup hidup berdampingan dan mencintai bangsa serumpun.. Jika kita mengiklaskan budaya, tanah dan laut jatuh ke negeri lain, sebaiknya nggak usah merayakan 17 agustus lagi .. karena pahlawan kita mati sia2 .. KITA CINTA DAMAI, TAPI LEBIH CINTA KEMERDEKAAN..

  5. nina~neena Says:

    I definitely respect your perspective and opinion.
    But when you’re wearing ties and 3 piece-suit, or play grunge or punk, you don’t say or proclaim that they are YOURS. Right?
    If we did, I think they (the western world, or whoever think they own the culture) will respond quicker than the attack of killer bees when their nest is disturbed.
    I think you should revise your examples.

    And I agree with the global issues you’re drafting up there.
    definitely need attentions, concerns, and real actions.

    But don’t say that the case between Indonesia & Malaysia, concerning the cultural heritages the Malays are claiming is a minor issue.
    Try to say that to Wayan Rindi, ~ bet you don’t know this guy. He’s worth google-ing.

    Malaysia is really crossing the lines.
    They should be ashamed of themselves for claiming this Indonesians’ intellectual properties ~ an Indonesian heritages.
    Proofs can be lined up as long as pigeons you see on electric-cables in my country in mid-summer.

    I believe you are not a native Balinese.
    Funny to hear all this from someone who doesn’t even really involved in your own native cultural dances/heritages.
    I bet you don’t dance Tari Pendet, Reog nor any of those cultural-dances, right?
    You are a rock star, what do you really know about all that?

    If you write all this just to stir up some attention for your up-coming concert, cause I can see your flyers, then you are truly a hypocrite.
    sorry to say that.
    And the worse than that is that you are taking advantage of this issue for your own benefit to promote your own concert.
    You are an opportunist.
    Your twist of forwarding ‘there are greater issues that the Indo-Malay conflicts’ is really a cheap trick.
    I don’t fall for that.
    That’s pathetic

    Hope you’re a Better Man.

    sincerely,
    Nina (Slovakian, a Balinese dancer)

  6. nina~neena Says:

    of course I do not agree with some stupid~shallow Indonesian individuals who do Malaysian-sweeping on the streets.
    That won;t mean anything.
    Indonesian should do it in more sophisticated and smart ways.
    Let’s figure that out together.

    If you can yap about plagiarism, ~your song(s) being claimed by another individual as his/her own~, then you work on registering your songs to the bureau;
    I think you should also do the same thing on this cultural-heritages, or do some real actions. Get a Pendet dancers on your October 2nd concert.
    Don’t you think so?

    Show me you care.
    I’ll show up at the show ;p

  7. Someone Says:

    menurut saya sendiri,
    apa yang anda katakan itu ada benarnya.
    tapi kita bicara soal negara,
    dimana semua hal yg berkaitan erat dengan tanah air sangatlah peka..

    seperti halnya genre,
    menempel erat dengan khas sound, instrumental, serta berbagai macam etika..

    sedangkan negara,
    isinya sangat banyak,
    memang benar 1 negara bukan 1 kepala,
    tapi mayoritas mereka sudah menghina Indonesia,
    belum lagi para tki yang di sana banyak disiksa..

    apakah anda tidak merasa terhina dengan segalabentuk penghinaan yang mereka berikan kepada negara tempat anda lahir (mungkin sampai mati) ??

    ini hanya share saja,
    terima kasih banyak atas atensinya.

    *grunge revolutions*

    Name & URL of this commenter had been edited – Red -

  8. Lakota Says:

    @nina: Come on? Does it matter if the person writing this is Balinese, Indonesian, Malaysian or from Mars? who cares? As someone who has traveled internationally, i’m surprised your so closed minded as to think that only someone who is Balinese should be writing about this….

    When you say Malaysia is crossing the line, and “They” should be ashamed of themselves, who do you mean? Because, i don’t think the general public there is trying to “claim” Indonesian heritage, I also don’t think anyone deserves hate energy directed at them just because of the country they are from, the color of their skin, or their religious beliefs.

    The concert tomorrow is non-profit, it is to raise awareness and encourage dialog. we are not being payed to play there. it is a community event which all the bands are donating their time to perform, share opinions, and we are open to anyone being involved. Would you like to come and perform the Pendet dance there? (I’m not being sarcastic, it is a concert, but we are very open to any type of visual performances, even traditional dance. You can contact me on 08179743034, if you are interested in performing.) If you care so much, get involved!

  9. Robi Navicula Says:

    @nina: Thanks for your opinion, it is highly appreciated… this is an open discussion here, so both pro & contra are accepted.

    Where I am from is not so important, but since you ask, I can answer. Yes, I’m a native Balinese, and also both my mom and dad, and my ancestors…and my mom was a Balinese dancer, since she was kid till my last sister was born (and now my sister learned dance too). I’m following my mom dance since I was in her womb, so Balinese dance is in my blood, but when I was a teenager I turned to rock music, which was one of my dreams.

    What we trying to do just some pro-active activity to avoid more and more tension, that possibly turn to violence.

    When graduate University (my school and college objection was cultural and tourism), I work in tourism industry in Bali professionally as a staff of marketing in a biggest Tour & Travel Company in Bali for four years and before that I was a professional tour guide for 3 years, so I know how we got a lot of profit from selling dances and art performance that based on Ramayana and Mahabharata story (which are derived from Indian epic). Do we give royalty to India for this? No.
    But, this is the beauty of art. It becomes something, when it touches people’s hearts (it doesn’t matter where they come from) and mix with local culture. Art loses it’s beauty when people begin to claim this is mine and that is yours, don’t take mine or I will kill you. Copyright is made by the major industry to control their artist so the money will not go anywhere but their pocket. That’s fine, coz that’s how the capitalism works. But now, this perspective is slowly changed coz people are more inter-connected these days which is healthy for independent art industry (maybe I’m getting a little off track here).
    Anyway, as an artist (if you follow this debate from the beginning) you understand what I mean, right?

    Real Balinese as an artist people/community have socialist norms in their inner heart. From people for people, no matter where they are from. So that’s why Balinese art is A HARMONIOUS MIX FROM MANY CULTURES FROM ALL OVER THE WORLD! From dance, music, sculpture & painting pattern & technique… all derived from many influence out of Bali, since many many years ago. No one is really original.
    Politics are politics… there could be some political motives behind this tension which is encouraging people to hate.
    Art is art! It’s pure as a coconut juice. Don’t mix it with this political pollution.

    By the way, the concert is charity concert. No one is getting paid. Everyone involved is donating their time and money. From People for people… we can make art and enjoy it, when we share it.

  10. Robi Navicula Says:

    @Meela: Thanks for your advise:)

    Mengutip kalimat terakhirmu di atas:.. KITA CINTA DAMAI, TAPI LEBIH CINTA KEMERDEKAAN
    ‘Kemerdekaan’ dari apa, mam? merasa ada yang membelenggu kita?… ataukah jangan-jangan kita terbelenggu kepicikan kita sendiri?

    Mau dong aku dikasi tau caramu bagaimana menjadi seorang nasionalis atau patriot sejati…
    Bagiku mencaci-maki-sumpah serapahi-sweeping negara lain (berikut semua warga negaranya) bukan cara seorang ‘Warga Indonesia Cinta Damai yang Mencintai Negaranya’. Ini bukan seorang nasionalis yang cerdas. Kalo ini mah, siapa aja yang online di komputer, atau sedang ngumpul2 sama geng-nya (mentalitas berkelompok) juga bisa, mam…apalagi preman pasar pengangguran…oooh, paling jago diajak beginian.

    Aku respect banget sama opinimu di atas, dan akan lebih respect lagi apabila kamu bersedia berbagi denganku, menceritakan pengalamanmu pribadi yang menunjukkan dirimu adalah seorang nasionalis negeri ini. Apa hal signifikan yang udah pernah kamu lakukan bagi negeri kita tercinta ini?

  11. nina~neena Says:

    hi Lakota, hi Robi..

    I couldn’t agree more with you about those you said up there.
    But please be attentive, I am not accusing the Malaysian in general.
    I am addressing their government, their administrative, or some of those individuals who produced the commercials intentionally using Indonesian dances/cultures.
    This has to be addressed between administrative officials and citizens.

    and I’m not close minded, I’m not saying if it is any importance whether anyone who wrote this post or made this concert is Balinese, Indonesian, Malaysian or from Mars.
    I never said anything like that, except I did guess that Robi (who wrote the post) was perhaps not a Balinese, nor know anything at all about Balinese culture.
    But it was proven wrong. Robi is a Balinese. and I respect that.
    So Robi probably cares to this issue in his own way.

    What I do not completely in groove with you is that you put this issue up front for promoting your concert, which I personally find not co-related at all.
    This is an example; What Fat Mike (from NOFX) did when he organized ‘Anti Bush Administration’ concerts was a real deal, real reason.
    I came to couple of those concerts’ dates. There were speeches, and booths where you could get information why you should stick together to say No to Bush.
    I was there, and I saw young people united together to say F word to Bush Administration. and it was succeeded. Obama makes the change.
    I’m not making comparison, or maybe I am, ~ but hopefully tomorrow’s concert will not just be a gatherings of hypocrites whose only concern that day was how to perform well and rock the stage, but pretend that they cares so much about the issue.
    Awareness will surely be raised, with all the blaring sounds, but I hope real messages and real ‘instructions’ will be delivered on how you can avoid the unnecessary disputes between the two nations, if you say this is unnecessary.

    Good luck with the concert tomorrow

    ciao,
    neena

    As you can see I am very much involved in appreciating the culture by learning and performing the dance.
    Performing on your rock stage tomorrow will be a ruin for your show.
    It will be a misfit. Be realistic.
    I’m here as a friend.

  12. dana Says:

    Nah gtu bru cerdas namanya,jgn seenaknya kita mencari kambing hitam diantara dunia yang sudah mulai hitam ini!!! mari kita bersama2 bercermin dari kesalahan ini,sapa yang salah??? dan siapa yg merasa dirugikan???? kita memang serumpun,namun jgn lupa jga akan budaya dan cara sosialisme kita berbeda!!! why???????????? coz,itu adalah sebuah identitas kita sendiri dan identitas dari sebuah bangsa itu sendiri!!!! \lewat situs ini dan beserta si penulis Robby “john Lennon’nya” BAli mampu menyiarkan serta memberi arah pasti tentang sebuah masalah yg bisa di bilang bgtu complicated serta belum bisa menemukan akar masalahnya untuk memberi sebuah jwaban yg realisti,krits tpi tidak terlepas dari idealis kita sendiri!!! karena,jika kita berbicara hanya mengandalkan kata “FIKTIF” serta “BULLSHIT” belaka maka akhir yang akan timbul adalah sebuah kebingungan besar serta tindakan “DESTROYER” secara massal!! kita bukan Afghanistan yang punya “TALIBAN” dan kita bukan negara “BARAT” yg bgitu memuja over freedom di jaman sesat berlimpah derita!!! namun kita adalah sebuah negara tengah yang terpencar,kecil,tapi berlimpah SDM dan SDA’nya!!!! serta msih berpegang kuat akan tenggang rasa,peace,dan kasih sayang,maka dari itu mari kita merenung,introspeksi,dan berikan jawaban yg pasti buat acara ini!!! karena dengan musik pesan kita mampu di cerna,di serap bagai sebuah nutrisi,serta bisa di laksanakan!!! bukan hanya sebagai sebuah acara hiburan semata,yang masuk kuping kiri,lalu hanyut keluar lewat kuping kanan bersama angin dan mimpi kosong yang tak berbuah hasil!!!! aarrrrrhhhhhhhhhhhhh,BTw buat Robby ney!!!! dmn beli kacamata tuh???? titip satu bleh ga???? byar sama2 jdi John Lennon gtu,kan gagah tu brur??? ya ga???? hwe………….hehehehehehehe……………(^_^)

  13. Robi Navicula Says:

    Nice, Neena…thanks for being a friend. This is the point of this campaign, to decrease tension by creating friendship and understanding. Music concert just a symbol of starting this awareness. Act local,think global.
    Peace.

  14. Tonny Trisnawan Says:

    iya.. damai saja.. jangan perang.. peace..

  15. Robi Navicula Says:

    @ Dana: Kacamatanya dari toko tua di jl.Gajah Mada,Denpasar bro…aku lupa namanya. Dulu sih ada cuma satu, ga tau sekarg. Eh, kemaren Thor adikku, beli satu di Kuala Lumpur… framenya keren, kayak harry potter. dia bilang ada banyak. Kalo kamu minat aku coba tanya dia, siapa tau kalo dia kesana lagi bisa nitip :)

    Last Nite Concert at Twice was awesome… jumbo thanks buat yang udah hadir dan support. Special thanks for: Bands, Twice Bar, Noize Distro, Bali Grungers,….and happy bday for Mr.Blackdog Taylor…yg ngerayainnya di Twice by joinning a blues jam session!
    Photos on d way!

1 Trackbacks For This Post

  1. balinow.org » Blog Archive » MALAYU BERSATU START WITH MUSIC Says:

    [...] Navicula initiate to starting the Malayu Bersatu campaign, there will be a anti-conflict concert at Twice Bar, Kuta Bali, this Friday, October 2nd. Bands performing: Navicula, Devil Dice, Nymphea, & Balian. More info: http://www.naviculamusic.com/melayu-bersatu/ [...]

Leave a Reply