NaviLog #1: Kintamani

Written by Robi on . Posted in News

Kita berangkat jam 2.30 siang, rombongan Navicula sebanyak hanya 2 mobil, menyusuri jalur terpadat tur terlaris di Bali: Jalur menuju Kintamani! A volcano trip.

Hari ini kita tamasya. Navicula diundang main di acara private party-nya teman kita, Kadek Krisna, yang mengenalkan venue mereka yang baru selesai direnovasi, di salah satu ruang di Lake View, sebuah restaurant/hotel di kawasan wisata Kintamani. Berbarengan malam itu sahabat kita juga, Kerry Pendergrast, seniman asal Ubud juga menggelar pameran lukisannya di venue yang sama.

Sampai di Kintamani jam 5.30 sore, kawasan kaldera raksasa Batur sudah mulai berkabut, tapi gunung Batur, sebuah jerawat bernanah lava yang ada di dalam kaldera, masih kelihatan pinggang ke bawah. Danau dan 5 desa di sekitarnyapun tampak dalam kemasan kabut transparan. Kita menikmatinya dari beranda hotel Lake View, di bibir kaldera, ditemani bercangkir kopi dan sebotol arak (sumpah, arak yang satu ini enak banget!) hadiah teman kita yang ikut berangkat ke sana.

Sempat tidur 30 menit buat power-nap, dan bergegas menuju venue, band Nosstress sudah menggoyang pengunjung. Selanjutnya giliran kita tampil, kita mengundang teman2 untuk jamming bersama: Malala (seorang biduan asal Slovenia), Kamau (Freestyle Rapper asal US), dan Kerry Pendergrast (pelukis dan juga vokalis band lokal Hilltribe, serta istri dari seorang maestro lukis Ubud, Bapak Pranoto). Sebenarnya, Jaron Freeman-Fox, pemain violin Delhi 2 Dublin, band asal Kanada, juga ikut dalam rombongan kita tapi dia tidak ikut jamming karena violinnya ketinggalan di rumah saya di Denpasar. Kelar Navicula menggeber 10 lagu, kita melanjutkan malam dengan makan-minum-mengobrol intim di balcony dingin. Hadir pula sahabat baik kita, Jason Tedjasukmana yang jauh-jauh dari Jakarta khusus hadir di acara spesial ini.

Tengah malam, sebagian anak-anak menginap di hotel yang disediakan dan menyantap supper mujair segar hasil danau, dan sebagian lagi, termasuk saya, memilih kembali pulang ke Denpasar sambil membawa pulang sebungkus besar tamarillo, hasil panen petani sekitar untuk dijus besok pagi.

Kita menyetir dalam kabut, menuju hangatnya pelukan ranjang gembrot yang menunggu di rumah sendirian.
Keesokan paginya di rumah, minggu yang gerimis, Jaron main violin setelah sarapan.

Tags: , , ,

Trackback from your site.

Comments (1)

  • apel

    |

    jeg ceritane unik sajan…. cara ES kintamani..

    Sukses

    Reply

Leave a comment