MTV Iggy “Navicula Live: Rock Against Environmental Destruction”

Written by Lakota on . Posted in News, Video

Navicula have become heroes in Indonesia’s rock underground for their raw, neo-grunge songs protesting government corruption and the degradation of the environment. At Twice Bar, a cramped, sweaty punk rock club in the Kuta resort area of Bali, they play on the floor with their fans pressing in close around them to sing along. Given the location, their song “Orangutang” and its message about the fragility of nature couldn’t be more urgent.

Read the full article by Maria Bakkalapulo on MTV Iggy’s website.

Filmed on location at Twice Bar, Kuta, Bali, Indonesia. 2013.

Rolling Stone Indonesia Editors’ Choice 2013: Rock Ambassador: Navicula

Written by Alfred Pasifico on . Posted in News

RSI

Selama 17 tahun, Green Grunge Gentlemen ini menjadi duta rock Indonesia.

Oleh: Adib Hidayat
Denpasar - Awal September 2012 pagi -saat udara dingin masih terasa di Bali, waktu menunjukkan pukul 04:30. Robi, vokalis Navicula, meluncur ke Bandara Ngurah Rai. Robi sudah janjian dengan gitaris Dankie, bassist Made, dan drummer Gembull untuk langsung bertemu di bandara. Sengaja mereka berangkat lebih awal karena akan menimbang semua koper dan hardcase instrumen agar sebisa mungkin sesuai dengan kuota bagasi.
Navicula takut bagasi mereka overweight, tapi sebisanya agar tidak terlalu banyak karena budgetperjalanan yang pas-pasan sementara biaya kelebihan bagasi lumayan mahal. Perlengkapan yang Navicula bawa adalah untuk tur di Kanada selama 11 hari, tur Kalimantan (Borneo) selama 14 hari dan tur di Jakarta tiga hari. Non-stop. Praktis bakal hampir sebulan Navicula akan menjalani tur di September 2012.Di Kanada, mereka tampil di Envol et Macadam Festival Quebec City pada 8 September bersama Lagwagon, No Use For A Name, dan Young Empires. Mereka memenangkan lomba bertajuk Planetrox, sebuah festival yang melibatkan wakil band dari 15 negara. Dari mulai Kanada, Amerika, Prancis, Belgia, Inggris, Jerman, Australia, Irlandia, Italia, Czech, Jepang, Cina, Malaysia, Korea Selatan, termasuk Indonesia. Navicula pemenang Planetrox 2012 dan mewakili Indonesia di festival ini. Lagu dan video “Orangutan”, sebuah lagu tentang konservasi orangutan mengantarkan Robi, Dankie, Gembull, dan Made menuju Kanada.

Energi mereka meluap. Selepas tur di Kanada, Navicula terbang langsung dari Toronto menuju pedalaman Kalimantan untuk melanjutkan tur berjudul Borneo Tour. Navicula berkeliling menggunakan sepeda motor di Kalimantan Barat dan tengah (Borneo) melibatkan Greenpeace dan Mata Harimau Bikers. “Kami menyusuri sisa keindahan hutan Kalimantan seluas 2.000 kilometer selama 12 hari bersama Tim Mata Harimau Greenpeace, melintasi keindahan hutan tersisa yang bisa diselamatkan. Kampanye alam lewat musik,” tutur Robi.

Dalam rilis yang mereka sebarkan, Navicula menulis, “Navicula membawa musik sebagai medium untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya penyelamatan hutan agar publik ikut mengawal implementasi kebijakan pemerintah seperti moratorium. Akhir tahun lalu, Navicula merilis single “Orangutan” sebagai materi bebas unduh untuk mengingatkan penyelamatan satwa endemik itu. Navicula juga mengkampanyekan nasib harimau Sumatra yang jumlahnya tinggal 400 ekor lewat lagu “Harimau! Harimau!”.

Dalam upaya mengkampanyekan proyek ini, tentu saja mereka membuatuhkan dana. Mereka merilis proyek pendanaan publik (crowdfunding) untuk Borneo Tour di Kickstarter.com. Dengan membawa orangutan sebagai ikon kampanye, Navicula akhirnya bisa mengumpulkan dukungan US$ 3.154 untuk menggelar tur mandiri ke Kalimantan.

Bertepatan dengan tur yang berlangsung pada akhir September 2012, Greenpeace Indonesia juga menggelar “Kepak Sayap Enggang, Tour Mata Harimau Seri Kalimantan” melintasi jalur tiga provinsi di Kalimantan (Selatan, Tengah, dan Barat).

Kepak Sayap Enggang adalah lanjutan dari tur Mata Harimau di Sumatra tahun lalu. Bila di Sumatra membawa simbol loreng harimau, maka kali ini Greenpeace menambahkan keindahan sayap burung enggang pada tim pengendara motor yang akan melintasi Borneo. Klop.

Petualangan dalam mendokumentasi keindahan hutan serta kerusakannya ini menjadi pengalaman berharga bagi Navicula. Dalam “Kepak Sayap Enggang”, Greenpeace bekerja sama dengan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) yang mengantarkan Navicula bersua dengan kelompok masyarakat yang terpinggirkan dalam konflik dengan perusahaan tambang atau perkebunan kelapa sawit.

Tidak cukup dengan itu, Navicula mengkampanyekan proyek ini juga dengan cara merilis album kompilasiKami No Mori (2012), berisi 12 komposisi bertema lingkungan yang disarikan dari enam album Navicula dan beberapa materi baru. Kami No Mori dalam bahasa Jepang artinya hutan para dewa (The Forest of The Gods).Aktivitas Navicula lain pada akhir Oktober 2012 adalah tampil di pelataran Candi Borobudur, Magelang, dalam acara “Solarizing Borobudur”, kampanye terbaru Greenpeace untuk meningkatkan kesadaran tentang solusi energi terbaru untuk memerangi perubahan iklim. Robi, Dankie, Made dan Gembull tampil di set panggung berbentuk bola bumi. Acara malam itu begitu istimewa karena sumber tenaga acara dinyalakan menggunakan listrik yang dihasilkan melalui panel surya dan turbin angin!Beberapa tahun yang lalu saat Navicula di tengah proses penggarapan album keenam, Salto, mereka mendengarkan album Euphoria Morning milik Chris Cornell (Soundgarden) sebagai referensi. Navicula mengetahui bahwa di album itu ada nama Alain Johannes yang berperan sebagai produser, juga turut bermain sebagai musisi, tepatnya sebagai multi-instrumentalis, serta penulis lagu.

Saat mempersiapkan album ketujuh, Navicula banyak menyimak album Them Crooked Vultures dan Queens Of The Stone Age sebagai referensi sound. Kembali mereka melihat ada sosok Alain Johannes di balik kedua band tersebut. Entah sebagai pemain gitar ataupun instrumen lainnya seperti keyboard, dan sebagai sound engineersekaligus musisi di rekaman Queens of the Stone Age.

Garis nasib Navicula bertemu Alain Johannes terwujud saat Navicula terpilih se-bagai pememang di kompetisi video klip band bernama RDE ROCKS yang diikuti 500 band dari 43 negara. Perusahaan mikrofon ternama, RDE, memilih 10 dewan juri yang terdiri dari para veteran rock dunia untuk memilih 10 finalis. Matt Sorum (mantan drummer Guns N’ Roses dan Velvet Revolver) yang juga bertindak sebagai anggota dewan juri memilih Navicula.

Setelah melalui proses voting internasional, Navicula terpilih sebagai juara pertama, dan itu berarti Navicula terbang langung dan rekaman di Hollywood sebagai hadiah. Maka pada 26 November 2012, Navicula terbang ke Hollywood mengerjakan proyek album mini di studio legendaris Record Plant, dan Alain Johannes bertindak sebagai produsernya.

Navicula rekaman di Record Plant yang dindingnya dipenuhi oleh foto sejumlah pahlawan musik mereka yang pernah rekaman di tempat itu. Sebut saja John Lennon, Frank Zappa, Mick Jagger, Kiss, Black Sabbath, Nine Inch Nails, Queen, Danzig, Marilyn Manson, Beastie Boys dan sederet pahlawan lainnya, hingga idola baru seperti Lady Gaga.

Mereka mengakui saat rekaman di Indonesia banyak melakukan kompromi. Navicula membawa album atau lagu yang soundnya menjadi referensi dan menerka-nerka bagaimana cara menghasilkan sound seperti ini dengan fasilitas yang tersedia. Berbeda saat bekerja dengan Alain Johannes dan tim di Record Plants.

“Kami memperoleh informasi langsung dari sumbernya. Untuk fasilitas, kami minta satu, disiapkan tiga. Contohnya, saat kami ingin sound drum seperti John Bonham, kru senior yang bekerja untuk Jason Bonham langsung didatangkan untuk menyiapkan drum, men-tuning, dan kami tinggal main. Gitar apalagi, langsung si Alain yang tunggang-tungging ngeset sekeranjang pedal yang berupa aneka warnanya itu dan tergopoh-gopoh mengeluarkan koleksi ampli miliknya. Ampli yang sama, yang dipakainya di Them Crooked Vultures atau Queens of the Stone Age. Gila!” cerita Robi dengan mata berbinar saat kami duduk di sebuah tempat makan akhir Maret 2013 lalu di pingir jalan utama Sanur, Bali.

“Kami tambah semangat saat melihat Alain bekerja dengan antusias dan ada rasa memiliki di proyek ini, tidak semata menjalankan tugas sebagai produser. Begitu lagu-lagu kelar, dia mengatakan kepada kami betapa puasnya dia dengan hasil rekaman ini dan memastikan bahwa dia sendiri yang akan mixing dan masteringlagu-lagu ini di studio pribadinya. Seusai rekaman, kami masih punya ekstra 10 hari di Amerika. Sambil menunggu hasil post-production dari Alain, kami menyewa van dan tur ke beberapa kota di Kalifornia untuk manggung di sejumlah tempat yang pernah kami baca di majalah,” kata Robi lagi.

Salah satu venue yang Navicula coba adalah 924 Gillman Street di Berkeley, sebuah lokasi bersejarah tempat band-band punk kesohor seperti Green Day, NOFX, Bad Religion, Rancid lahir dan berkarya. Navicula juga main di bar bersejarah SubMission di San Fransisco.

Kisah selengkapnya baca majalah Rolling Stone Indonesia edisi 97, Mei 2013.

(RS/RS)

Navicula Merilis Lagu yang Direkam di Hollywood lewat Rolling Stone

Written by navicula on . Posted in News

RS_mei_2013_cover_intro

Press Release – 1 Mei 2013

Volcom Entertainment merilis CD promosi album ke-7 band grunge asal Bali, Navicula melalui majalah Rolling Stone Indonesia edisi Mei 2013. CD ini berisi empat lagu, dua track direkam di studio Record Plant Hollywood yaitu Days of War, Nights of Love dan Refuse to Forget dan dua track direkam di Bali yaitu Harimau! Harimau! dan Bubur Kayu.

GIGS: Bali Anti-Corruption Fest, 13 April 2013

Written by navicula on . Posted in Gigs, Navictivism, News

Anti-corruption Fest: Tur album kompilasi Frekuensi Perangkap Tikus (unduh gratis di Beranijujur.net)
13 April 2013, Jam 16:00-23:00
di Gd. Sawaka Dharma, Lumintang, Denpasar, Bali

Bands: Navicula, Geekssmile, Scared of Bums, Ripper Clown (Denpasar), Morfem (JKT), Iksan Skuter (JKT)

Teater Kini Berseri, Mural Komunitas Djamur – ISI Denpasar, Painting exhibition Made Bayak.

Free Entry!

Pidato Dave Grohl di SXSW

Written by navicula on . Posted in News

20130315-dave-x595-1363358267

Dave Grohl menjadi pembicara kunci di SXSW 12 Maret lalu. South by Southwest (SXSW) adalah konferensi dan festival tahunan musik, film dan media interaktif di Austin Texas, Amerika Serikat.

Pidato bernarasi yang menarik tentang bagaimana Dave Grohl remaja menemukan musik dan terpesona oleh punk rock, bagaimana dia menemukan ‘suaranya’ sendiri setelah berjam-jam setiap harinya memainkan musik dan bernyanyi di kamar. Juga bagaimana trio Nirvana menemukan suara mereka sendiri setelah latihan intens di gudang yang pengap, hingga akhirnya menjadi ikon musik rock tahun 90an, bagaimana Grohl menemukan ‘suaranya’ lagi setelah kematian Kurt Cobain.

Discography