Canada Tour Part I – From Bali to Canada, catatan perjalanan

Written by Robi on . Posted in News

DENPASAR – SINGAPURA – HONGKON | Pagi-pagi buta, jam 4.30, mobil saya yang dikendarai Alfred dan ditemani oleh Lakota dan Rebekah, sudah meluncur mengantarkan saya menuju airport Ngurah Rai Bali. Kita janjian dengan Dankie, Made, dan Bull untuk langsung ketemu di airport. Sengaja kita berangkat lebih awal karena kita akan menimbang semua koper dan hardcase instrumen agar sebisa mungkin sesuai dengan kuota bagasi.  Kami tahu akan overload, tapi sebisanya agar tidak terlalu banyak karena budget perjalanan kami pas-pasan, sementara biaya kelebihan bagasi lumayan mencekik. Perlengkapan yang kami bawa adalah untuk tour Canada (11hari), tour Borneo (14hari) dan Jakarta (3hari) non-stop. Praktis bakal hampir sebulan kita di jalan.

Setelah oper barang sana-sini, efek Dankie di tas Made, Beberapa mechandise di jejalkan ke dalam hardcase gitar Robi, celana dalam Gembull yang berukuran XXL digulung kecil-kecil agar barang-barang lain masih muat dalam satu koper itu, karena kelak di Hongkong nanti, kelebihan item dihitung per barang. Jadi semakin sedikit jumlah barang semakin bagus!  Yang bisa masuk kabin, kami  akan jinjing, lewat rayuan gombal dan puppy face. Makanya counter check in yang kami incar adalah yang dijaga wanita yang kira-kira bisa kami rayu. Sementara tampang preman Gembull kami sembunyikan di belakang kerumunan agar tidak merusak rencana ‘soft approach’ ini.

Kami berempat berangkat dari Denpasar dengan Lion Air pukul 6.30, via Surabaya, menuju Singapura.

Sesampai di Changi Singapura,  kami segera menukar uang secukupnya untuk makan siang dan menghabiskan waktu transit selama 4,5 jam itu dengan mengobrol dan bercanda, mengenai kemungkinan-kemungkinan konyol yang bakal dihadapi di perjalanan panjang ini.

Kami melanjutkan perjalan dengan Tiger Air menuju Hongkong. Waktu check in sempat terjadi negosiasi mengenai kelebihan barang, terjadi tawar-menawar, kali ini penjaga counter yang baik hati mengurangi biaya kelebihan dari S$ 360 menjadi S$ 300 (sekitar 2 juta-an rupiah), plus semua gitar (kecuali bass Made) dan pedal case kami mohon agar bisa ditenteng ke dalam kabin.  Doi mengiyakan. Tapi ternyata saat boarding, di tempat scanner barang yang kedua, petugas Tiger Air tak mengijinkan untuk membawa barang berlebih ke dalam kabin plus memberi tahu bahwa kelebihan berat untuk barang cabin akan dikenai S $ 30 per kilogram. Mampus! Case gitarku yang gemuk itu isinya gitar dan merchandise, beratnya hampir 11 kg. Belum case Dadang, pedal board, dll.  Beruntung petugas Bapak tua yang baik hati itu mengijinkan kami dan semua barang-barang lewat tanpa membayar sepeser pun. Ternyata doi waktu mudanya seorang musisi, pernah main di band rock di South Carolina, US. Sesama musisi doi berempati kepada kita, dan kita pun mengobrol kilat sambil ‘give me five’-an. Toss, bro! Tampang dan senyum doi mengingatkanku pada Bang Donny Fattah, bassis God Bless sahabat kita itu.

Di dalam Tiger air, kami melihat menu dan melihat di dalam listnya ada Tiger Beer. Hmmm… asyik nih kayaknya, Tiger Beer inTiger Air.

Cheers!

(Bersambung)

___________

(Bersambung, baca Part II: Hongkong–Vancouver)

Navicula will perform in Quebec, Canada at Envol et Macadam Festival on Saturday, September 8th. Click here for event details!

Tags: , , ,

Trackback from your site.

Comments (4)

  • yudha

    |

    Good luck bli…cak cak canada nas ne!!!

    Reply

  • ketut yasa

    |

    bgs skali tak jemu mmbacany ciamik nan lucu xixiix

    Reply

  • ketut yasa

    |

    jgn lupa bawain lg ssat konser org utan alny lg hot news,mreka di bantai krn mreka dianggap hama bg petani klapa sawit jack

    Reply

  • yoga

    |

    navicula keren,buat bali ini bangga,keep rock!!!

    Reply

Leave a comment