Pidato Dave Grohl di SXSW

Written by navicula on . Posted in News

Dave Grohl menjadi pembicara kunci di SXSW 12 Maret lalu. South by Southwest (SXSW) adalah konferensi dan festival tahunan musik, film dan media interaktif di Austin Texas, Amerika Serikat.

Pidato bernarasi yang menarik tentang bagaimana Dave Grohl remaja menemukan musik dan terpesona oleh punk rock, bagaimana dia menemukan ‘suaranya’ sendiri setelah berjam-jam setiap harinya memainkan musik dan bernyanyi di kamar. Juga bagaimana trio Nirvana menemukan suara mereka sendiri setelah latihan intens di gudang yang pengap, hingga akhirnya menjadi ikon musik rock tahun 90an, bagaimana Grohl menemukan ‘suaranya’ lagi setelah kematian Kurt Cobain.

Menurut Grohl, musician comes first, musisi harus didahulukan. Ini adalah ekspresi sederhana nan lantang dari Grohl yang dianggap sebagai kolaborator proyek musik hebat, dari Nirvana, Foo Fighters, Probot, Queens of The Stone Age, Them Crooked Vultures. Dan proyek terakhirnya Sound City, dokumenter tentang studio rekaman di Los Angeles yang akhirnya bangkrut tahun 2011. Grohl membeli konsol mixing analog dari sana, memboyong ke rumahnya dan mengajak musisi lain berkolaborasi untuk sebuah album, dari Rick Springfield, Alain Johannes (hey, dia produser kreatif Navicula saat rekaman di Record Plant, Hollywood :D), Trent Reznor, sampai Paul McCartney.

Pasar, industri atau apapun itu belakangan. Musik adalah suara manusia. Musisi harus didahulukan.

Pidato Dave Grohl di SXSW


Terima kasih untuk SXSW yang telah memberikan saya kesempatan luar biasa untuk menjadi pembicara kunci tahun ini. Dibesarkan oleh bekas penulis pidato politik Washington DC dan guru pidato publik, hampir tertulis dalam DNA saya bahwa saya harus bisa berdiri di depan ruangan penuh manusia yang tak saya kenal dan MENIPU mereka. Sewaktu saya kecil, ceramah ayah saya legendaris. Dia sering melakukannya. Itu seperti karya sastra yang tetap bersama saya sampai hari ini… dan kalau itu mengajarkan saya sesuatu, paling tidak itu adalah cara memberi ceramah yang panjaaaang. Belum lama ini saya cukup beruntung duduk dan makan malam bersama salah satu pembicara kesukaan saya… Mr. Bruce Springsteen. Bruce, seperti yang Anda bisa bayangkan, adalah sosok yang hangat, lucu, dan mengagumkan, dan tamu makan malam yang luar biasa! Saya memuji pidatonya sebagai pembicara utama tahun lalu, dan mengutip wawasan dan lelucon dia. Lalu, saya memberi tahu bahwa tahun ini saya dipilih sebagai pembicara kunci. Dia memandang saya sesaat, dan pelan-pelan memberikan senyuman yang kita semua kenal dan cintai, senyuman yang bisa membuat terang satu stadion… lalu, dia MENERTAWAIKU. Seperti mengatakan “Rasain, semoga beruntung, kawan…” Tetapi… sejujurnya… ini bukan pertama kali orang mengatakan ini pada saya, jadi tanpa ragu ini kehormatan tertinggi dalam karir musik saya untuk bisa membagi denganmu apa yang saya tahu tentang musik.

Jadi. Apa yang saya tahu…

Musisi harus didahulukan.

Ibu saya bilang saya lahir dengan suara tepuk tangan. Tanggal 14 January 1969, satu kelas dokter muda berada di dalam ruang bersalin di Warren, Ohio, untuk pertama kali menyaksikan suatu kelahiran. Saat saya lahir, seluruh ruangan bertepuk tangan. Itu adalah saat-saat pertamaku di dunia ini… dipegang dengan kepala di bawah, berlumuran darah, berteriak sambil ditampar oleh orang yang tidak aku kenal. Mungkin ini adalah awal yang paling sesuai untuk persiapan menjadi musisi profesional.

Sekarang… sebelum saya lanjut, saya harus berterima kasih pada seseorang. Saya harus berterima kasih pada Edgar Winter, untuk mengizinkan K-Tel records menggunakan lagu instrumental legendarisnya “Frankenstein” pada kompilasi blockbuster mereka tahun 1975. Itu adalah album hits yang saya dan saudara saya beli di swalayan dekat rumah dan kami memutarnya setiap akhir pekan saat Ibu saya meminjam turntable milik sekolah. Album ini mengubah hidup saya. Kumpulan karya “terpenting” dari hits radio tahun 1975. Bukan lagu KC and the Sunshine “That’s the way, uh huh uh huh I like it” yang membuatku ingin mengangkat gitar lama berdebu di pojok kamar. Bukan… dan bukan lagu Dave Loggins “Please Come to Boston” atau lagu Silver Convention “Fly Robin Fly” yang membuat saya ingin loncat ke dalam mobil van bersama teman-teman dan meninggalkan dunia untuk musik. Bukan. Yang membuat saya menginginkan semua ini adalah (menyanyikan “Frankenstein”). Hanyalah riff. Aku melepaskan semuanya untuk riff.

Yang menarik, lagu itu hanya instrumental. Tidak ada vokal. Hanya drum, gitar, keyboard, perkusi, dan setiap instrumen mendapatkan bagian solo dalam lagunya… tanpa vokal. Tetapi dalam tiap solo saya mendengar… ada suara-suara. Ini adalah suara-suara tiap musisi. Kepribadian mereka. Teknik mereka. Rasa mereka. Suara orang bermain musik dengan orang lain. Ini membuatku ingin bermain musik dengan orang lain juga.

Tidak lama kemudian saya punya gitar pertama, tipe Sears Silvertone lama yang ada ampli di dalam case-nya. Baunya seperti kamar lama penuh debu dan kawat terbakar, dan suaranya seperti ‘kambing berteriak seperti manusia’, ada klip YouTube itu sedang populer (coba cari, lucu banget), tetapi instrumen ini langsung menjadi obsesi saya. Gitar inilah, dan satu buku lagu Beatles, yang membuat hidup saya ke… ahem… satu arah. Saya bukan tipe orang yang mengambil pelajaran atau arahan, dan ditinggal dengan cara saya sendiri, jadi aku mendedikasikan setiap hari untuk bermain musik. Ini menjadi agamaku. Toko musik menjadi gerejaku. Para rockstar menjadi santoku, dan lagu mereka menjadi nyanyian punjianku.

Springfield, Virginia, tidak terlalu dikenal sebagai tempat yang melahirkan rockstar. Suatu “karir” dalam musik sepertinya tidak mungkin. Nyaris mustahil. Tidak mungkin wajah-wajah di poster Kiss-ku DIBAYAR untuk melakukan ini! Gene Simmons? Bayangkan! Tetapi semua itu tidak penting bagiku. Karena aku telah menemukan SUARAKU. Dan itu saja yang aku butuhkan untuk bertahan hidup. Kepuasan memainkan satu lagu dari awal sampai akhir tanpa membuat kesalahan… itu bisa menjadi makananku selama berminggu. Menemukan suatu kord atau skala baru membuatku melupakan satu anak di sekolah yang ingin memukulku, atau cewek cantik yang pakai lipgloss dan sweater lembut yang aku taksir tapi sama sekali tidak menarik perhatianku. Aku suka suara baruku. Karena, seberapa buruk suaraku terdengar… itu adalah milikku. Tidak ada orang lain yang mengatakan apa yang benar atau apa yang salah, jadi… tidak ada benar atau salah.

Walaupun aku ingin berada dalam suatu band, aku di sana, sendiri di kamar, setiap hari hanya ditemani album-album dan gitar, bermain sendiri selama berjam-jam. Aku menempatkan bantal-bantal membentuk drumset di atas tempat tidur dan main mengikuti album-albumku sampai benaran ada keringat menetes dari poster Rush yang tertempel di dinding kamar. Lama-lama aku menemukan cara menjadi band beranggota satu orang. Aku menggunakan alat perekam kaset yang buruk, memakai stereo rumah, rekam, dan memainkan suara drum bersama suara gitarku. Voila! Multi-tracking! Saat aku umur 12 tahun! Menyesalkan tapi, yang saya dapatkan bukan lagu “Sgt. Peppers”… malah kumpulan lagu-lagu tentang anjingku, sepedaku dan ayahku. Tetap saja, aku telah melakukan semua ini sendiri. Jadi rasanya puasnya semakin manis.

Tetapi aku ingin membagi obsesi baruku dengan orang lain. Akhirnya, aku bertemu satu anak tetangga yang punya drum set lama. Tetangga lain punya PA lama. Setelah beberapa sesi jamming yang janggal, kami punya suatu band. Tantangan pertama, selesai. Saat ditanya apa nama band waktu memasukkan band kami di kompetisi band SMA, kami hanya menulis “Nameless.” Kami nggak punya ide lebih keren daripada itu. (Ngomong-ngomong, mencari nama band yang bagus adalah hal yang tersulit…  Foo Fighters? Waduh …) Tantangan kedua, teralihkan. Malam itu, lagu “Footloose” karya Kenny Loggins’ belum pernah terdengar seberani itu… sayangnya antusiasme kami membawakannya tidak cukup untuk meraih juara “Band terbaik dari SMA Thomas Jefferson,” tetapi… kami terus berusaha. Kami mencoba kemampuan terbaik kami untuk bisa membawakan Bowie, The Who, Zep, Cream, Kinks, Hendrix . . . kami bermain di rumah orang, halaman orang, pesta SMA… kami bahkan pernah membawakan lagu the Rolling Stones “Time Is on My Side” di suatu rumah jompo!

Lalu… aku pergi ke Chicago.

Itu tahun 1982, dan dengan gaji kecil ibuku yang mengajar di sekolah umum, kami berangkat untuk liburan keluarga ke Chicago, mengunjungi keluarga kami yang tinggal di pinggiran kota bagian Utara, dekat danau. Kami membawa semua yang bisa kami masukkan dalam mobil kecil Ford Fiesta warna biru dan berangkat. Aku bersiap untuk menghabiskan seminggu berenang dan makan sandwich beef Itali, namun, begitu tiba, suasana liburan ini langsung menjadi jelas. Kakak sepupuku, Tracey, telah menjadi punk rocker.

Awalnya… saya MENDENGAR dia turun tangga. Suara rantai berdentang, suara boots berat berlangkah, suara jaket kulit baru yang terdengar seperti keriut kapal tua. Lalu… saya melihat dia. Kepala botak, celana bondage, T-shirt Anti-Kemapanan yang sobek… dia seperti superhero yang menjadi nyata. Sesuatu yang saya hanya pernah lihat di acara TV seperti Chips atau Quincy. Hatiku berdenyut semakin cepat. Mataku melotot. Tenggorokanku tercekat. Aku berdiri di sana, tidak bisa bicara dan penuh kagum. Tracey adalah pahlawan pertamaku.

Dia membawaku ke kamarnya dan menunjukkan koleksi albumnya yang luar biasa. Bertumpukan vinyl single tujuh inci dan LP, dengan nama band-band yang saya tak pernah dengar sebelumnya… seperti: The Misfits. Bad Brains. Minor Threat. Dead Kennedys. The Germs. Flipper. The Circle Jerks. . Discharge. Crass. Conflict. Black Flag. White Flag. Void. Faith. The Dicks. The Dickies. The Minutemen. The Adolescents. The Ramones. The Big Boys GBH. DRI. SOA. DOA. MDC. MIA. CIA. Crucifix. Crucifucks. X. X-Ray Spex. Wire. Sex Pistols. The Buzzcocks. Rights of The Accused. The Necros. Fang. Government Issue. The Descendants. Saya duduk dan memainkan setiap album. Ini adalah hari pertama dari kehidupan baruku.

Malam itu aku pergi ke “konser” pertamaku. Konser ini bukan di arena, tapi di bar kecil kumal di seberang jalan Lapangan Wrigley, namanya Cubby Bear. Dan yang main bukan band yang saya pernah dengar. Tetapi band punk lokal asal Chicago bernama Naked Raygun. Dengan teriakan “ONE TWO THREE FOUR” bandnya mulai membuat suara ganas, tubuh terbang ke sana-sini, air ludah dan keringat dan kulit dan volume dan pecahan gelas dan kencing dan muntah…. Aku di surga. Dan ini adalah rahasia kita.

Besoknya saya mengajak L ke toko musik Wax Trax.  Saya beli T-shirt Killing Joke dan soundtrack The Decline of Western Civilization. Aku telah dibaptis. Aku bukan lagi salah satu dari kalian. Aku salah satu dari kita.

Ada sesuatu yang lebih berarti daripada suaranya, dan rasa perlawanan, dan rasa bahaya… yang lebih berarti itu adalah kebahagiaan menyadari bahwa band-band ini terpisah dari sumber yang konvensional, struktur populer yang nyata, dan jaringan underground yang mendukung kemandirian musik ini secara total menginspirasiku. Aku berumur 13 tahun, dan aku sadar aku bisa memulai bandku sendiri, menulis lagu sendiri, merekam album sendiri, memulai label rekaman sendiri, mengeluarkan album sendiri, mencari gigs sendiri, menulis dan menerbitkan fanzine sendiri, menyablon T-shirt sendiri… Aku bisa melakukan semua ini sendiri. Tidak ada cara yang benar atau salah… karena semuanya milikku.

Saat pulang ke Washington DC, saya menenggelamkan kepala ke skena hardcore punk rock lokal. Saya baru menyadari bahwa salah satu skena musik yang paling produktif dan berpengaruh di negara ini ada di rumahku sendiri. Minor Threat. Bad Brains. Scream. Band-band lokal ini sekarang menjadi Beatles-ku. Stones-ku. Zeppelin-ku. Dylan-ku. Dan ini pada zaman Reagan menjadi presiden, jadi musik protes sedang panas-panasnya! Konser punk rock pertamaku adalah Rock Against Reagan Concert tanggal 4 Juli 1983. Konser pada hari kemerdekaan Amerika dengan panggung yang dibangun di dasar tangga Lincoln Memorial adalah resep untuk kekacauan. Tujuh ratus ribu orang kampungan, tanpa alas kaki, berjemur matahari datang dari Maryland dan Virginia, memakai kaos Lynyrd Skynyrd dan Judas Priest, jeans belel dan bandana, semua berkumpul di ibukota untuk menonton kembang api, dengan peti pendingin yang penuh bir dan Southern Comfort… hanya untuk menemukan band asal Texas Dirty Rotten Imbeciles menyanyikan lagu mereka “I Don’t Need Society”:
Your number’s up, you have to go

The system says I told you so
Stocked in a train like a truckload of cattle
Sent off to slaughter in a useless battle
Thousands of us sent off to die
Never really knowing why
Fuck the system, they can’t have me
I don’t need society
I don’t need society

Ini seperti rumus pasti untuk chaos.

Hari itu aku beli album mereka, langsung dari vokalisnya di belakang mobil mereka. Vinyl tujuh inci dengan 33 lagu. Terbungkus dengan cover buatan sendiri. Sampai hari ini, album itu salah satu barangku yang paling aku hargai.

Saat matahari telah terbit dan band legendaris Dead Kennedys muncul di panggung, vokalis mereka Jello Biafra menunjuk ke Monumen Washington dan berteriak, menyebutnya “Klansman (anggota dari organisasi rasis Ku Klux Klan) besar di langit, dengan dua mata berkedip berwarna merah…” Itu puncaknya… akhirnya semuanya meledak. Helikopter terbang di atas, lampu menyorot pada penonton sambil polisi di atas kuda memukul para punk dengan tongkat. Seperti adegan dari Apocalypse Now. Ini adalah Woodstock-ku. Ini adalah Altamont-ku. Ini adalah rock & roll, tidak penting T-shirt apa yang kamu pakai atau gaya potongan rambutmu. Ini adalah NYATA. Aku terbakar dari dalam. Aku seperti kesurupan, penuh kuasa dan inspirasi dan marah dan jatuh cinta pada kehidupan dan jatuh cinta pada musik, seperti aku punya kuasa untuk memicu kerusuhan, atau suatu emosi, atau memulai revolusi, atau hanya menyelamatkan kehidupan lelaki muda.

Jadi aku bergabung dalam suatu band, berhenti sekolah SMA, dan berangkat tur. Aku kelaparan. Tanganku berdarah. Aku tidur di lantai. Aku tidur di panggung. Aku tidur di lantai di bawah panggung. Dan aku mencintai setiap menit dari perjalanan ini. Karena aku bebas. Dan aku ingin memicu kerusuhan, atau suatu emosi, atau revolusi, atau menyelamatkan kehidupan seseorang dengan menginspirasi mereka untuk mengangkat suatu instrumen seperti aku waktu aku lebih muda. Aku ingin menjadi Edgar Winter bagi seseorang. Aku ingin menjadi Naked Raygun bagi seseorang. Aku ingin menjadi Bad Brains atau Beatles bagi seseorang. Karena itu adalah kepuasannya. Itu adalah tujuannya. Kami memainkan musik jenis itu, jadi kami tidak diperhatikan. Tidak ada kesempatan untuk karir. Tidak ada jalur untuk terkenal. Tidak ada juara. Tidak ada kartu kredit orang A&R yang mentraktir kami makan malam di Benihana. Kepuasan kami adalah mengetahui bahwa kami melakukan semuanya sendiri, dan ini benaran nyata.

Tak lama kemudian aku menemukan diriku tersesat di Hollywood tanpa uang sepeser pun dan tanpa jalan pulang, nongkrong di bungalow Laurel Canyon dengan sekelompok wanita pegulat. Jangan tanya cerita lengkapnya. Untuk itu saya butuh pidato terpisah…

Dan saat itu saya mendengar 5 kata yang mengubah kehidupanku selamanya:
“Kamu pernah dengar band Nirvana?”

Nirvana sama dengan “kami”. Dibesarkan dengan musik Creedence, dan Flipper, dan Beatles, dan Black Flag, sepertinya idealisme mereka sama dengan kami, tujuan mereka sama. Tetapi mereka punya sesuatu yang kami tidak. Mereka punya lagu. Dan mereka punya… Kurt. Yang mereka tidak punya adalah seorang drummer.

Jadi tanpa pikir panjang, saya membungkus drum kit dalam kotak kardus, mengambil tasku yang belel, dan terbang ke Seattle.

Kami latihan di suatu gudang pertanian. Setiap hari. Hanya itu yang kami punya. Tidak ada matahari. Tidak ada bulan. Hanya ada… gudang itu. Dan lagu-lagu itu. Kurt telah, tanpa ragu, menemukan suaranya. Setiap latihan kami memulai dengan jamming improvisasi bebas, ini menjadi semacam latihan dalam kolaborasi/komunikasi yang dinamis dan musikal. Kami saling berbicara tanpa kata-kata. Komunikasi verbal bukan kekuatan di Nirvana, jadi kami berkomunikasi menggunakan instrumen. Dan kombinasi dari ketiga suara kami menghasilkan suara yang akhirnya memancing ketertarikan dari salah satu label rekaman major. Atau 10 perusaan label rekaman major…

Tiba-tiba kami berada dalam perang penawaran dengan beberapa orang A&R dengan sepatu mahal dari Fred Segal, dan lelaki promosi radio dengan bong ganja di mobil, dan lemari yang penuh hadiah box-set, dan makan di Benihana SETIAP MALAM. Di salah satu rapat, setelah memutar demo lagu kami “In Bloom” untuk Donny Eiener di kantor dia yang mewah di gedung tinggi di New York, Donny melihat pada Kurt dan bertanya, “Jadi… apa yang kalian inginkan?” Kurt membungkuk di kursinya, melihat Donny yang duduk di belakang meja kayu oak yang mewah dan bilang, “Kami ingin menjadi band terbesar di dunia.”

Aku ketawa. Aku pikir dia bercanda. Dia tidak bercanda.

Kalian harus ingat status musik pada saat itu. Ini list lagu top 10 dari Billboard tahun 1990:
10. Jon Bon Jovi, “Blaze of Glory”
9. Billy Idol, “Cradle of Love”
8. En Vogue, “Hold On”
7. Phil Collins, “Another Day in Paradise”
6. Mariah Carey, “Vision of Love”
5. Madonna, “Vogue”
4. Bel Biv Devoe, “Poison”
3. Sinead O’Connor, “Nothing Compares 2 U”
2. Roxette, “It Must Have Been Love”

Dan lagu nomor Satu dari tahun 1990 … Wilson fucking Phillips, “Hold On”

Aku heran Kurt bisa berpikir kami bisa menyentuh sedikit dunia mainstream musik pop yang disempurnakan. Semua orang heran. Sama sekali tidak masuk akal. Sama sekali tidak bisa dibayangkan. Harapan seperti itu adalah jenis aspirasi yang percuma, rendah dan kami telah dikondisikan untuk menolak, agar kami bebas dari semua tujuan selain menjadi diri kami sendiri. Definisi dari kata “Nirvana” di kamus adalah “suatu tempat atau keadaan yang penuh kebebasan atau bebas dari rasa sakit, khawatir dan dunia eksternal.” Kami dari dulu SELALU menemukan cara kami sendiri sebagai musisi, dari hari ke hari di kamar kami waktu masih kecil, dan hari ke hari di dalam ruang gudang itu. Apa yang kami butuhkan dari dunia ITU?

Setelah ketemu dengan beberapa orang A&R lain dengan sepatu mahal, terima beberapa box set lagi, makan malam beberapa kali lagi di Benihana, kami akhirnya menandatangani suatu kontrak. Mengikuti langkah pahlawan kami Sonic Youth, kami bergabung dengan David Geffen Company, lempar semua barang ke dalam van Chevy tua kami dan pergi ke… Sound City.

16 hari. 13 lagu. Kami terbiasa merekam 16 lagu dalam satu hari. Ini sudah di tingkat yang berbeda. Semua hari-hari hujan dan dingin yang kami habiskan latihan di gudang, menyempurnakan lagu-lagu ini, saling berbicara tanpa kata, menemukan “suara” kita, semuanya… untuk ini.

Saat kami tiba di tempat parkir Sound City, saya cepat sadar bahwa ini bukan studio rekaman yang besar, gaya, dan mewah ala Hollywood seperti yang saya bayangkan. Sama sekali bukan. Tempatnya lubang-kumuh. Sudah hancur, kebakaran, gedung kuno di San Fernando, dan jauh sekali dari Fred Segal atau Benihana. Dan ini sempurna. Terkenal sebagai tempat lahirnya album-album legendaris seperti “After the Gold Rush” Neil Young, Fleetwood Mac dari Fleetwood Mac, Damn the Torpedoes Tom Petty, Heaven Tonight dari Cheap Trick dan album Rick Springfield “Working Class Dog”, tempat ini tanah suci… tetapi terlihat seperti sudah bertahun tak pernah dibersihkan. Karpet coklat menghiasi dindingnya. Sofa yang masih mereka SEWA selama 10 tahun.  Aku berpikir… terlihat seperti Chi Chi yang kebakaran.

Namun, begitu mendengar take pertama dari “In Bloom”, kami langsung memahami warisan Sound City. Ruangan itu, dan mixing board Neve tua itu menangkap sesuatu. Sesuatu yang kami belum pernah dengar sebelumnya. Tidak terdengar seperti album pertama kami, Bleach. Tidak terdengar seperti Peel Sessions yang kami rekam di BBC, atau single “Sliver”, atau semua demo kami. Bukan. Terdengar seperti Nevermind. Itu adalah suara tiga orang yang bermain seperti kehidupan mereka tergantung dengan ini, seperti mereka menunggu seluruh kehidupan hanya agar saat ini dapat ditangkap dalam reel kaset dua inci.

Setelah sekitar seminggu di Sound City, entah mengapa, aku mulai khawatir karena orang dari label belum datang untuk memeriksa hasil rekaman kami. Jadi, aku menelepon manajerku John Silva dan bertanya “Hei, haruskah kami khawatir?” Dia langsung menjawab “Fuck No! kamu harusnya senang! Kamu pasti nggak mau orang-orang itu mengganggu kalian di sana!” Seperti biasa… dia benar. Dan, mereka biarkan kami sendirian.

Sama seperti kami tidak bisa membayangkan punya pengaruh sedikitpun di industri arus utam, orang lain juga sulit membayangkan itu terjadi. Awalnya, album Nevermind diproduksi 35,000 keping. Cukup, menurut hitungan label, untuk jualan selama beberapa bulan. Indikasi yang bagus tentang harapan semua orang.

Dalam beberapa minggu semua telah terjual. Dalam sebulan, albumnya dapat status emas. Sampai Natal, albumnya mencapai status platinum. Tiba tahun baru, kami menjual sampai 300,000 album setiap minggu. Pengaruh yang tak bisa kami bayangkan, telah menjadi gelombang besar.

Aku masih nggak mengerti benar apa yang terjadi. Waktu yang tepat? Mungkin. Banyak anak muda Amerika yang udah bosan dengarin Wilson Phillips? Sangat mungkin.

Tetapi, aku suka berpikir yang terjadi adalah saat dunia mendengar musik Nirvana yang mereka dengar adalah suara tiga manusia, dengan kepribadian yang sangat berbeda, yang tidak selalu nyambung dan penuh ketidaksempurnaan, secara bangga menunjukkan diri untuk didengar semua orang. Tiga orang ditinggal menentukan jalur seluruh kehidupan mereka untuk menemukan suara mereka. Itu jujur. Itu murni. Dan itu nyata.

Hingga saat itu, belum ada yang memberitahuku cara bermain, atau apa yang perlu dimainkan. Dan sekarang, tidak akan ada.

Album sesudah Nevermind, In Utero, sangat menunjukkan ini. Dua belas lagu, yang hampir semua direkam live hanya dalam beberapa hari, dengan produser album terkenal yang penuh opini tentang industri musik, Steve Albini. Ini sesungguhnya suara band di suatu tempat atau keadaan yang penuh kebebasan atau bebas dari rasa sakit, khawatir dan dunia eksternal. Sekarang kuasa ada pada kami. Kami bukan lagi Nirvana, kami telah menjadi NIRVANA. Sekarang orang HARUS membiarkan kami bebas sendiri. Anak-anak jalanan yang tak tertebak diwarisi istana? Mungkin. Lebih mirip kisah Lord of the Flies dengan gitar berefek distorsi.

Tetapi, dari sini bisa kemana? Sebagai seniman yang besar di skena punk rock underground yang mencekik etika, kami dikondisikan untuk menolak konformitas, untuk melawan semua pengaruh dan harapan korporat, sekarang bisa kemana? Bagaimana menghadapi sukses seperti ini? Bagaimana mendefinisikan sukses?
Apakah (sukses) masih kepuasan memainkan suatu lagu dari awal sampai akhir tanpa membuat kesalahan? Apakah (sukses) masih menemukan kunci atau skala baru yang membuatmu melupakan semua masalahmu? Bagaimana memproses dari menjadi salah satu dari ‘kami’, kini menjadi salah satu dari ‘mereka’?

Rasa bersalah. Rasa bersalah adalah kanker. Ini bisa membatasimu, menyiksamu, dan menghancurkan dirimu sebagai musisi. Ini adalah tembok. Ini adalah lubang hitam. Ini adalah pencuri. Yang menjaga dirimu dari dirimu sendiri. Ingat waktu belajar memainkan lagu pertama, riff pertama, atau menuliskan lirik pertama? Tidak ada rasa bersalah waktu itu. Ingat waktu tidak ada benar atau salah? Ingat rasa puas sederhana dari hanya memainkan musik? Kamu tetap, dan selamanya akan tetap, menjadi orang itu pada dasarnya. Itulah musisi. Dan, musisi harus didahulukan.

Gila… kenikmatan penuh rasa bersalah. Bagaimana rasa nikmat saja? Aku dengan jujur bisa mengatakan, di depan umum, bahwa “Gangnam Style” adalah salah satu lagu kesukaanku dalam dekade terakhir. Benar! Apakah lagu itu lebih bagus atau lebih buruk dari album terbaru Atoms for Peace? Hmmm andai ada panel juri seleb yang bisa bantu kita menentukan! Apa J-Lo pikirkan? Cepat, panggil majalah Pitchfork!!! Pitchfork, kami butuh bantuanmu menentukan nilai suatu lagu!!! Fuck, siapa yang peduli!!! I fucking LOVE IT!!! Jadi, siapa yang berhak mengatakan apa suara yang tidak bagus dan yang bagus. The Voice? Bayangkan Bob Dylan berdiri di sana menyanyi “Blowin in the Wind” di depan Christina Aguilera: “Mmmmm. Aku berpikir kamu terdengar terlalu menyanyi dari hidung dan tajam. Berikutnya!”

Itu adalah SUARAMU. Hargailah. Hormatilah. Asuhlah. Tantang. Uji batasnya dan berteriak hingga suaramu habis. Karena setiap orang diberkati dengan itu, dan siapa yang tahu seberapa lama akan bertahan..

Saat Kurt meninggal, saya tersesat. Mati rasa. Musik yang saya dedikasikan hidup untuknya telah menghianatiku dan mematahkan hatiku. Aku tidak punya suara. Aku matikan radio, taruh semua album-albumku, dan membungkus drumkit. Aku tidak tahan mendengarkan suara-suara orang lain menyanyi tentang rasa sakit, kebahagiaan, cinta atau kebencian. Tidak senada pun. Rasanya terlalu menyakitkan.

Tapi lama-lama apa yang saya rasakan pada Hari Kemerdekaan, tanggal 4 Juli, 1983, di dasar tangga Lincoln Memorial itu kembali. Rasa yang membuatku terasa kesurupan, penuh kuasa, penuh inspirasi, dan marah, dan penuh cinta terhadap kehidupan, dan penuh cinta terhadap musik, hingga ada kuasa untuk memicu kerusuhan, atau suatu emosi, atau memulai revolusi, atau hanya menyelamatkan kehidupan seorang lelaki muda. Aku merasakannya lagi.

Aku menemukan ada studio dekat rumah. Aku booking selama enam hari. Angkut semua alatku dalam mobil, membeli kopi yang kuat, dan mulai bekerja lagi. 14 lagu dalam lima hari, dengan satu hari untuk mixing. Aku memainkan setiap instrumen, lari dari drum, ke gitar, ke mesin kopi, ke bass, ke mic vocal, ke mesin kopi, dan balik lagi ke drum, dan balik lagi ke mesin kopi, saya kembali lagi, dengan caraku sendiri, tanpa ada yang memberitahuku apa yang benar atau salah, band yang sama beranggota satu orang, 20 tahun kemudian, tetap melakukan multi-tracking sendiri. Tetapi, kali ini tidak lagi memakai alat perekam kaset dan lagunya bukan lagi tentang anjingku, sepedaku, dan ayahku. Aku menyanyikan lagu tentang memulai ulang. Dan, mungkin beberapa lagu tetap tentang ayahku.

Aku mencetak 100 kaset. Aku menuliskan nama Foo Fighters biar orang membayangkan itu suatu grup, dan bukan hanya seorang junkies kopi yang lari dari instrumen ke instrumen. Aku membaginya dengan teman. Membaginya dengan keluarga. Membaginya dengan orang-orang di pompa bensin. Aku memulai ulang.
Tidak lama kemudian aku terima telepon dari seorang A&R. Kasetnya mulai menyebar. Enam hari yang aku habiskan sendiri di studio, hasilnya aku anggap demo, aku anggap hanya uji coba, aku menganggap itu sejenis terapi! Ternyata, mereka berpikir itu album! Aku bahkan nggak punya band!

Jadi, aku menghubungi teman baikku dan pengacaraku, Jill Berliner, untuk minta nasehatnya. Tahu apa yang dia katakan padaku? Musisinya harus didahulukan.

Aku memulai label rekamanku sendiri, Roswell records. Ya, betul, saudara-saudari, Anda sedang memandang seorang presiden label rekaman.

Setelah semua yang terjadi, pada dasarnya saya tetap anak yang sama, yang berumur 13 tahun dan sadar bahwa aku bisa memulai bandku sendiri, menulis laguku sendiri, rekam albumku sendiri, memulai label rekamanku sendiri, mengeluarkan albumku sendiri, mencari gigsku sendiri, menulis dan menerbitkan fanzineku sendiri, menyablon T-shirtku sendiri. Aku bisa melakukan semua ini sendiri. Mungkin sekarang sudah dunia yang berbeda, tetapi sekali lagi, tidak ada cara yang benar atau salah karena semuanya milikku.

Dari hari pertama Foo Fighters beruntung untuk berada dalam dunia sempurna ini. Kami menulis lagu kami sendiri. Kami rekam lagu kami. Kami membuat album kami. Kami memilih kapan album telah menjadi album. Kami memiliki album kami, kami bisa menyewakan lisensinya untuk beberapa saat, tapi harus dikembalikan. Karena itu MILIKKU. Karena aku adalah musisinya. Dan aku didahulukan.

Aku harus membayangkan alasan aku di sini di depan kalian semua hari ini adalah karena itu. Apakah aku drummer terbaik di dunia? Pasti tidak. Apakah aku penyanyi, penulis lagu terbaik? Bahkan dalam ruangan ini tidak! Tetapi aku dibiarkan dengan caraku sendiri, menemukan suaraku, sejak saat aku mendengar lagu “Frankenstein” karya Edgar Winter yang diputar di tuntable milik sekolah di kamar tidruku.

Baru-baru ini aku menyutradarai film dokumentar tentang studio rekaman dimana Nirvana merekam Nevermind lebih dari 20 tahun yang lalu: Sound City. Dalam filmnya, kami tidak hanya menceritakan ajaibnya lubang kumuh itu, tapi kami juga menggali tentang teknologi dan yang kami sebut “elemen manusia” dari musik. Bagaimana hal ini bisa hidup bersamaan?

Tidak ada benar atau salah. Yang ada hanya SUARAMU. Suaramu yang berteriak melalui konsol rekaman Neve 8028 yang kuno, suaramu menyanyi dari laptop, suaramu bergema dari pinggir jalanan, entah itu melalui cello, turntable, gitar, serrato, studer, itu tidak penting. Yang penting adalah SUARAMU. Hargailah. Hormatilah. Asuhlah. Tantang. Uji batasnya dan teriak hingga suaramu habis. Karena setiap orang diberkati dengan itu, dan siapa yang tahu seberapa lama akan bertahan.. Ada di sana, jika itu yang Anda inginkan. Sekarang, dibanding masa kapanpun, kemandirian musisi diberkahi kemajuan teknologi, yang memudahkan siapapun musisi muda yang terinspirasi untuk memulai bandnya sendiri, menulis lagunya sendiri, merekam albumnya sendiri, menulis dan menerbitkan fanzinenya sendiri (tapi sekarang kalian menyebutnya blog?). Sekarang, dibanding kapanpun, ANDA bisa melakukan ini, dan semuanya bisa jadi milikmu. Dan jika dibiarkan mencari sendiri, Anda bisa menemukan SUARAMU.

Tak lama yang lalu, saya pulang dengan box set vinyl the Beatles. Luar Biasa. Ukurannya saja seperti koper Tumi, beratnya 50 pon. Saat aku masuk rumah, putriku Harper yang berumur tiga tahun dan Violet yang berumur enam tahun, memandangku dan bertanya, “Apa itu???” Aku bilang, “Ini semua album Beatles!!” Tentunya, aku udah menghabiskan berjam mencuci otak mereka dengan lagu-lagu Beatles yang keren. Tapi ini adalah vinyl! Mereka belum pernah melihatnya. Aku memasang turntable di kamar mereka, buka kotaknya, dan mulai menunjukkan cara menjalankannya. “Ok.. jadi albumnya dikeluarkan dari bungkusnya, ada lagu di sisi ini, dan ada lagu di baliknya juga, hati-hati letakkan di turntable dan dengan lembut tempatkan jarumnya. HATI-HATI!!” Mereka terkagum-kagum. Saya pergi, dan balik lagi setengah jam. Mereka tetap di sana, menari dengan lagu “Get Back” bungkus album berserakan di lantai. Ingat rasa itu? Kita semua pernah berada di sana.

Sebagai ayah yang bangga, aku berdoa suatu saat jika mereka dibiarkan mencari sendiri, mereka akan sadar bahwa musisi yang harus didahulukan, dan mereka akan menemukan suara mereka sendiri, dan mereka akan menjadi Edgar Winter bagi seseorang, menjadi Beatles bagi seseorang, mereka akan memicu kerusuhan, atau suatu emosi, atau memulai revolusi, atau menyelamatkan kehidupan seseorang. MEREKA akan menjadi pahlawan bagi seseorang.

Tetapi apa yang aku tahu?

Terima kasih untuk waktu kalian.

Tags: , , , , , , , , ,

Trackback from your site.

  • ardi

    Terharu banget, motivasi banget, salut banget buat om dave :D

  • Jey

    akhirnya, ada juga yang nerjemahin pidatonya ke bahasa yang saya bisa ngerti. hehe..
    thanks Navicula, udah membagi berita ini.

  • http://wustuk.com wustuk

    Pidato yg sungguh mantap! Pada akhirnya emang yg terpenting adalah mengerjakan sesuatu sepenuh hati. Lain dari itu, tidak penting lagi \m/

  • nicho.barking

    wah kalah tuh pidatonya pak presiden RI

  • roket

    Wow, inspirasi kebebasan yg menuju menuju kemandirian buat hidup dan berkarya!p Thx DG..Hail Navicula

  • achos

    cooolll.. thx Navicula

  • novoselic

    great, thanks to navicula !