April 24th, 2015

Tribut untuk Navicula di Jakarta Timur

Oleh Rebekah E. Moore, PhD (Etnomusikolog)

 

Sepuluh tahun yang lalu, di sebuah toko kaset yang lembab dan gelap di barat daya Bali, saya meminta teman saya, pemilik toko tersebut, untuk merekomendasikan apa saja yang rock, asli, dan endemik dari pulau yang menjadi rumah baru saya ini. Album Alkemis milik Navicula adalah satu dari antara tiga buah kaset yang ia berikan kepada saya.

Saya mendengarkan kaset itu selama berminggu-minggu. Pada saat itu, tanpa memiliki kemampuan unutuk mengartikan kata-kata dalam liriknya, saya membaca sistem referensial alternatif seniman ini, dan saya memahaminya. Saya merasakan latar suara yang umum di kalangan remaja, yang dibakar ke dalam ingatan kita oleh saat-saat di mana kita ditunggangi oleh kecemasan di tahun-tahun remaja kita.

Di tahun-tahun tersebut, ketika semua yang kita inginkan adalah merasa berbeda – tapi tidak sendirian – berusaha membedakan diri dan tidak mengikuti apa yang digemari oleh saudara kita, namun tetap memberi penghormatan kepada para pendahulu kita dalam punk dan heavymetal, grunge diturunkan kepada kita sebagai jati diri musikal yang baru. Band ini, saya pikir, dibesarkan oleh Seattle Sound, sama seperti saya.

Dan begitulah, tiga tahun kemudian saya menemukan diri saya mulai penelitian disertasi tentang musik rock di Bali, dan Navicula sendiri dengan tegas menyebut banyak band grunge favorit saya sebagai pengaruh terkuat mereka. Beberapa bulan kemudian, saya menemani Navicula untuk tur perilisan album Salto ke seluruh Jawa. Saya ber-moshing bersama penggemar grunge di pusat kota pulau itu, yang menancapkan akar sejarah genre tsb di sini. Dan selama sesaat, di bawah beratnya muatan etnosentris saya, saya merasa sedang berada di pantai Amerika saya. Saya merasakan afinitas yang mendalam dengan para siswa dari sejarah musik yang berbagi ketertarikan saya pada Nirvana, Pearl Jam, dan Alice in Chains. Rasanya seperti pulang ke rumah, 10.000 kilometer jauhnya dari tanah kelahiran saya.

Seperti Navicula, banyak band senior di skena ini seperti Besok Bubar, Che Cupumanik, Alien Sick, dan lain-lain – telah membagikan lagu-lagu ciptaan mereka yang terinspirasi oleh dewa-dewa grunge Amerika. Lagu-lagu yang menceritakan, merenungkan, dan mengkritik lingkungan terdekat dan rumah mereka di Indonesia.

Namun ada kekhawatiran yang sangat mengganggu saya. Selama bertahun-tahun saya dihantui kekhawatiran jika para kebanyakan penggemar muda lebih suka menyembah dewa grunge di belahan bumi lain daripada yang ada di tengah-tengah mereka. Saya sering bertanya-tanya: Apakah para penggemar ini pernah merayakan bakat yang tumbuh di rumahnya sendiri dan bukan hanya bakat-bakat impor? Apakah mereka mewujudkan genre ini sebagai budaya ekspresif mereka, seperti saya mewujudkan genre grunge dari bakat-bakat ‘lokal’ di rumah saya; Amerika?

tribute

Mungkin keprihatinan saya sesat oleh asumsi yang salah, bahwa seseorang tidak dapat sekaligus memuja yang global dan mengingini yang lokal. Namun ada peristiwa yang membuktikan hal ini pada hari Minggu lalu, ketika saya menghadiri malam “Tribute to Navicula” di Jakarta Timur yang diselenggarakan oleh penggemar grunge. Lebih dari selusin band penghormatan kepada band yang sangat menginspirasi saya untuk kembali ke Indonesia dan kerinduan untuk tahu lebih banyak tentang musik rock di negara yang beragam dan membingungkan ini.

Masing-masing band naik ke panggung, dan dalam 3 set lagu, setidaknya ada 1 lagu Navicula yang telah mereka latih dengan susah payah – dibawakan dengan lirik yang cacat, yang dibaca dari layar telepon genggam. Pemandangan ini mengingatkan saya akan runtuhnya jarak geografis dan temporal yang sering terjadi dalam pertunjukan musik. Keyakinan saya bahwa konsumsi musik global tidak lebih menjajah daripada barang-barang asing – yang berdasarkan pengalaman tetap menjauhkan – tumbuh sepuluh kali lipat.

Dalam bar yang sepi di pinggiran kota megapolitan negara ini, tumbuhnya dewa grunge dirayakan dalam musik sebuah band yang telah diuji waktu, dan sekali lagi menunjukkan apa yang ditawarkan oleh musik rock di Indonesia kepada dunia. Dan dengan membuat penampilan kejutan di acara ini, vokalis Navicula, Robi, menjadi saksi potensi kreatif generasi berikutnya.

Photo Apr 19, 22 30 36

Di tengah malam itu, dua perempuan muda dengan rok panjang dan jilbab sederhana naik ke panggung. Yang ketiga berambut keriting sebahu dan mengenakan t-shirt dan celana jins – satu-satunya laki-laki dalam band itu, dan segera hilang dalam temaram bayang-bayang drum kit. Mereka adalah Fleur. Frontwoman Ayu dengan bangga mengacungkan gitar berleher panjang itu, menggeram di depan mikrofon, dan segera melucuti penonton yang mudah tercengang oleh penampilan dan olok-oloknya di atas panggung.

Dalam hitungan detik, ia menunjukkan kepada kami bahwa ia dan anggota bandnya adalah bagian dari ruang yang sering hipermaskulin ini. Penampilan Fleur secara teknis masih memiliki kekurangan di sana-sini, sama seperti kita semua di masa muda kita. Tapi kualitas potensi trio perempuan muda yang memasuki wilayah laki-laki muda ini mensinyalkan pergeseran evolusi besar berikutnya dalam grunge: di mana laki-laki dan perempuan akan memainkan bagian yang sama dalam mengembangkan keterampilan mereka dan membangkitkan masa lalu – yang suatu hari akan mereka acuhkan – di mana mereka yang muda dan hijau berfoto selfie dengan idola Indonesia mereka, sembari mengumpulkan penggemarnya sendiri. Pada Fleur, saya melihat sebuah obor, yang dengan gagah diserahkan dan dibawa ke masa depan grunge, dan bagi perempuan dalam skena musik Indonesia.

Photo Apr 19, 22 03 30

Dalam sikap Robi yang rendah hati seperti biasanya, dan di tengah sedikit ketidaknyamanan selama perayaan penuh semangat band yang ia mulai bangun lebih dari 18 tahun lalu ini, saya melihat kebanggaan seorang kakak dan memudarnya keraguan tentang apakah eksplorasi dan perjalanan estetisnya yang terus-menerus telah membawanya terlalu jauh dari akar grunge-nya untuk masih dapat mendapatkan kekaguman dari para penggemar terbesar genre ini.

Navicula adalah, dan tetap, panutan bagi musisi pemula, laki-laki dan perempuan, yang bermimpi untuk meninggalkan jejak mereka di seluruh penjuru bumi.

@naviculamusic

for booking/press contact

E-mail: hello@naviculamusic.com
Mobile: +6281 2365 55790
logo-nvcl-circle

©  Copyright 2016 - www.naviculamusic.com // web: www.fstdo.co